Ankor XX

madhy-adventures.blogspot.com.

Ankor XX

TWKM XXII PONTIANAK.

Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2011

Korpala goes to Darwin

Oleh : Andi Mulatauwe | 28-Okt-2010, 11:59:32 WIB


Kabar Indonesia - “Survive With KORPALA” yang merupakan moto penjiwaan lahir batin anggota Korps Pencinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala-Unhas) terhadap kecintaan mereka terhadap alam. Kecintaan yang kembali dibuktikan dengan Ekspedisi Pelayaran Akademis II' (EPA II)“.

Hal ini merupakan pelayaran kedua Korpala Unhas ke luar negeri, setelah berlayar dengan perahu Sandeq ke Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Pada Ekspedisi Pelayaran Akademis I (EPA I) tahun 1996, Korpala-Unhas berlayar dengan rute Sulawesi–Selatan, Kalimantan, Sabah, Brunei, Serawak, Singapura, Riau, Jawa dan kembali ke Sulawesi Selatan.
Pelayaran ini menunjukkan betapa tingginya daya ‘survive’ mereka, karena kali ini menuju Australia dengan perahu Sandeq yang telah berumur 15 tahun. Perahu tua itu kini dipakai bersimulasi untuk menguatkan kekuatan tim dan kesiapan awak perahu menuju pengarungan samudera yang lebih jauh.

Simulasi dilakukan selama 10 hari (6-16 September) di Pambusuang, Polewali Mandar. Untuk perahu setua itu, kemampuan survival harus terpadu dengan keberanian mengarungi laut dengan keterbatasan pengadaan perahu. Perahu tua, daya survival yang tinggi, keberanian dan keandalan tim, merupakan satu penanda bahwa nenek moyang orang Sulawesi bukan hanya pelaut pemberani, tapi cucu-cucu mereka di generasi terkini, juga demikian.

Pewarisan nilai-nilai keberanian pelaut Sulawesi terwariskan pada setiap gelombang nadi para pengarung samudera ini. Pelayaran ini menelusuri jejak-jejak pengarungan samudera, para pelaut Sulawesi di beberapa titik persinggahan sebelum masuk ke Australia.

Kemampuan Sandeq dalam pelayaran samudera disebutkan pernah mengarungi Singapura, Malaysia, Jepang, Mandagaskar, Australia dan Amerika (http://indotim.net). Dengan EPA II, maka tersisa lagi tiga wilayah yang akan dilayari yakni Jepang, Mandagaskar dan Amerika.

Pengarungan ini menjadi promosi etnik dalam dunia kemaritiman, sebagai bentuk rekonstruksi keberadaan pelaut ulung masa lalu. Pelaut-pelaut itu kini mewariskan semangat mereka dalam keberanian yang tercerdaskan secara akademis. Selama masa pelayaran ini, diadakan pula seminar kemaritiman untuk membedah nilai-nilai kemaritiman dalam ranah intelektual.

Dengan demikian, keberanian di laut terimbangi pula dengan kecerdasan di setiap gulungan ombak. Sisi antropologi dan sejarah yang menjembatani dua budaya antara Sulawesi dan Aborigin, maupun budaya yang terkait menjadi pembahasan ilmiah dalam seminar tersebut.

Di akhir Oktober, para atlet EPA II ini melakukan pendataan daerah pesisir Sulawesi Barat, sebagai bagian dari aktivitas ilmiah dalam pelayaran akademis ini. Guswan, ketua tim ekspedisi memberikan jalur detil EPA II dalam Tempo Interaktif (27/6/10). Ia menyebutkan, jalur pelayaran ini dari Makassar ke Pulau Aborigin Australia Utara.

Jalur ekspedisi ini berawal di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat, lalu perahu bergerak ke Makassar. Dari sini kemudian berlayar ke Pulau Selayar, selanjutnya keluar dari Selat Makassar menuju Pulau Alor. Selepas Alor, tim akan melipir ke pulau kecil di Nusa Tenggara Barat.

Selanjutnya memilih jalur nelayan Marege, dengan pertimbangan peluang dari karakter keganasan alam yang datang baik dari barat maupun timur tetap akan membawa perahu ke pesisir Aborigin, bagian utara Australia. (http://www.tempointeraktif.com). Dengan memilih jalur nelayan Marege, berarti Korpala-Unhas akan merekonstruksi dan merevitalisasi ketangguhan pelaut Sulawesi di jalur yang hanya dilewati para pemberani.

Di tengah persiapan EPA 2, dengan Sandeq tua itu, memang terdapat realitas ironi dari perahu tersebut. Sandeq makin tersisih, terkalahkan oleh keberadaan perahu mesin (Fajar, 3/10/05). Nelayan lebih memilih perahu bermesin dengan alasan lebih praktis.

Sandeq memang hanya jaya dalam seremoni dan perayaan gempita perlombaan. Perahu kebanggaan masyarakat Mandar, hanya terdengar dengung kejayaannya setahun sekali dalam 'Sandeq Race'. Kejayaan seremonial di setiap hari perayaan proklamasi kemerdekaan tersebut, tidaklah bisa mengembalikan kejayaan Sandeq.

Pelaut ulung di masa silam, tak menggunakan Sandeq untuk beberapa piala, penghargaan dan piagam maupun hadiah berupa uang. Di masa lampau, para pelaut ulung di atas perahu itu, mengapungkan kehidupan dalam keandalan sebagai manusia pemberani, karena mempertaruhankan nyawa di laut lepas.

Kejayaan Sandeq tak lagi terpelihara sebagai suatu budaya, tapi berkecenderungan menuju titik menurun sebagai aktivitas perlombaan olahraga belaka. Korpala Unhas, berkehendak merekonstruksi keberanian para pelaut ulung Sulawesi.

Mereka yang dulu berlayar ke Australia Utara, demi mempertahankan hidup keluarga yang ditinggalkan adalah persembahan keberanian yang tak terkatakan. Inilah budaya Sandeq yang tak bisa diapungkan hanya dengan perlombaan. Ketika segala sesuatu hanya dijadikan objek perlombaan, maka budaya telah dilunturkan untuk menjadi siapa menjadi nomor satu, tercepat dan terdepan dalam mengarungi laut.

Ini merupakan sisipan dari luar yang merusak nilai budaya kearifan lokal. Berlomba dan terus berlomba, adalah kebudayaan festival dari Barat, bukan ranah orisinil kultur masyarakat Sulawesi. Dalam laporan Fajar yang juga diposkan kembali oleh Mandar Online disebutkan, “Sandeq memang merupakan kebanggaan, tapi pada suatu saat hanya akan menjadi kenangan masa silam tanpa upaya yang konkret untuk menyelamatkannya.”

Saat yang dicemaskan oleh Fajar dan Mandar Online, tak akan terjadi sebagai kenangan masa silam belaka. Pelayaran EPA I dan EPA II, merupakan usaha konkret KORPALA-Unhas untuk siap menyelamatkan aset budaya ini. Penyelamatan yang sesuai dengan moto, “Survive With Korpala” .

Sisi kebudayaan yang sangat mengakar antara Sandeq dan orang Mandar yakni kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup (meminjam bahasa Durkheim, Struggle for Survival) dan membangun kebudayaannya (http://melayuonline.com). “Struggle for Survival” ala masyarakat Mandar bertemu dalam moto “Survive With Korpala” di ekspedisi ini.

Dalam situs itu disebutkan tentang adaptasi untuk mempertahankan hidup, membuat masyarakat Mandar memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan laut. Pengetahuan itu yakni berlayar (paissangang asumombalang), kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang), dan kegaiban (paissangang).

Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah: rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar. Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia.

Dengan perahu tercepat inilah, para pengarung laut muda itu bersama perahu tua, menunjukkan kepada dunia, usia bukanlah penghalang. Bagi mereka yang muda. Inilah saat untuk menggulung lebih banyak pengalaman dengan makan garam di laut yang bergejolak.

Tak ada pelaut ulung, di laut yang tenang. Garam terasa lebih gurih, bila langsung diciduk dari gelombang yang tinggi. Perahu tua itu juga bisa berkata kepada siapapun, bahwa kayu tak lapuk dalam umur yang bergerak. Kayu hanya lapuk dalam umur yang diam dan tak dipergunakan untuk apapun.

Taman Nasional Bantimurung

          Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terletak sekitar 30 km dari Bandara Hasanuddin baru, 60 km dari Kota Makassar, luas wilayah ± 43.750 Ha. Secara administrasi pemerintahan, kawasan taman nasional ini terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Secara geografis areal ini terletak antara 119° 34’ 17” – 119° 55’ 13” Bujur Timur dan antara 4° 42’ 49” – 5° 06’ 42” Lintang Selatan. Secara kewilayahan, batas-batas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep, Barru dan Bone, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. 
          



          Di taman nasional Bantimurung, ada beberapa obyek wisata yang dapat dikunjungi, seperti air terjun Bantimurung, Museum Nasional Kupu-kupu, Gua Batu dan Gua Mimpi.           

          Air Terjun Bantimurung merupakan salah satu obyek wisata alam di Sulawesi Selatan yang sangat terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan. Air terjun ini lebarnya sekitar 20 meter dan tingginya sekitar 15 meter, dengan kedalaman air di bawah air terjun antara 0,1-1 meter. Airnya yang jernih dan sejuk meluncur dari atas gunung batu dengan deras sepanjang tahun sangat nyaman untuk kita mandi di sana. Di bawah curahan air terjun terdapat sebuah tempat pemandian dari landasan batu kapur yang keras dan tertutup lapisan mineral akibat aliran air selama ratusan tahun.

           Bukan cuma Museum Nasional Kupu-kupunya, tapi taman ini menjadi habitat berbagai spesies kupu-kupu langka, sehingga orang Belanda pernah menjuluki tempat ini sebagai “Kingdom of Butterfly”. Bahkan, seorang naturalis asal Inggris, Alfred Rassel Wallase, pernah tinggal di kawasan ini selama kurang lebih satu tahun (1856-1857) untuk meneliti 150 spesies kupu-kupu yang hidup di area ini.


Dokumentasi: Korpala Unhas



Bislab

          Terletak di desa Pattunuang Asue Kab. Maros Sulawesi Selatan. Kawasan ini sangat ideal sebagai daerah tujuan wisata petualangan, panjat tebing dan pendidikan. Di kawasan ini terdapat batu besar yang berbentuk perahu, yang menyimpan legenda menarik. Menurut cerita rakyat, pada zaman dahulu pernah ada saudagar dari negeri Cina datang untuk melamar dan mempersunting gadis Samangki. Namun, karena lamarannya ditolak akhirnya saudagar tersebut malu dan mengkaramkan perahunya yang kemudian membatu. Batu tersebut dikenal dengan julukan Biseang Labboro dan biasa disebut Bislab, yang artinya perahu terdampar.

          Bislab bagi Korpala Unhas sebagai entri point dalam melakukan aktivitas Pendidikan Dasar, karena dikawasan ini terdapat dua bidang operasional yang lagsung dapat diperkenalkan kepada anggota muda seperti Susur Gua dan Panjat Tebing dengan lokasi yang saling berdekatan, selain itu beberapa materi dapat diaplikasikan dengan mudah karena alam telah meyiapkannya untuk kita maknai, lokasi yang relative terjangkau menjadikan kawasan ini ramai dikunjungi oleh organisasi Pencinta Alam (PA) dan Civitas Akademika, hal ini terlihat pada saat-saat pengkaderan Mahasiswa baru, dibeberapa titik terdapat beberapa organisasi BEM dan SENAT melakukan pengkaderan Mahasiswa Baru pada waktu bersamaan. Selain itu juga kawasan ini merupakan tempat persinggahan mobil angkutan yang akan keluar daerah sekedar mengisi kokosongan perut selama perjalanan dengan menu khas Maros yaitu Gogos….
          Kasawan ini juga dalam waktu dekat ini akan dilengkapi dengan wahana Waterboom sebagai lokasi rekreasi untuk mengisi waktu libur anda, tentunya bagi anda yang memiliki balita jangan khawatir karena di tempat ini juga akan disediakan kolam khusus buat balita, anak-anak dan kolam renang untuk orang dewasa….


 











Dokumentasi: Korpala Unhas

Gua di Sulawesi Selatan

GUA VERTIKAL

Lubang Leang Pute
Gua Leang Pute merupakan gua vertikal yang terletak di Dusun Pattiro, Desa Labiaja, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Gua ini tersusun dari batu gamping dan merupakan bagian dari komplek karst Maros. Lebar mulut Gua Leang Pute 50-80 m, dan kedalaman 200-270 m.

Lubang Dinosaurus
Gua Dinosaurus terletak di Dusun Pattiro, Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Seperti halnya Gua Leang Pute, gua ini pun merupakan gua vertikal yang tersusun dari batu gamping. Lebar mulut Gua Dinosaurus berkisar antara 80-100 meter dengan kedalaman 150-180 meter.

Lubang K20
Gua K20 terletak di Kappang, Km.57, Kabupaten Maros. Gua ini merupakan gua vertikal dengan lebar mulut gua berkisar antara 2 - 5 meter. Gua ini memiliki kedalaman 130-160 meter. Batuan gua ini adalah batu gamping sama halnya dengan gua-gua lain di Maros.

Lubang Tomanangna
Gua Tomanangna terletak di Dusun Langko,Kappang, Kabupaten Maros. Seperti halnya Gua Leang Pute, gua ini pun merupakan gua vertikal yang tersusun dari batu gamping. Lebar Mulut Gua : 30 - 50 m dan kedalaman Gua : 190 m

Lubang Kapa-kapasa
Gua Lubang Kapa-kapasa merupakan gua vertikal yang terletak di Dusun Kapa-kapasa, Kabupaten Maros. Lebar Mulut Gua berkisar antara 10 - 15 m dengan kedalaman gua : 210 m. Batuan yang menyusun gua ini adalah batu gamping sama halnya dengan gua-gua lain di Maros.

Lubang Lantang Huu
Gua Lubang Lantang Huu terletak di Leang Rakko, Kabupaten Maros. Lebar mulut gua berkisar antara 5 - 8 m dengan kedalaman gua 50 m. Batuan yang menyusun gua vertikal ini adalah batu gamping.

Lubang Baba’
Gua Baba’ merupakan gua vertikal yang terletak di Desa Pangia, Kec. Simbang, Kabupaten Maros. Lebar mulut gua berkisar antara 2 - 3 m dan kedalaman gua 40 m. Batuan yang menyusun gua ini adalah batu gamping sama halnya dengan gua-gua lain di Maros.

Gua Padaelok
Gua Padaelok terletak di Desa Pangia, Kec.Simbang, Kabupaten Maros. Seperti halnya Gua Leang Pute, gua ini pun merupakan gua vertikal yang tersusun dari batu gamping. Lebar mulut gua Padaelok berkisar antara 5 - 10 meter dengan kedalaman 54 meter.



GUA HORIZONTAL

Gua Patta
Gua Patta terletak di Leang Rakko, Desa Pangja, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Gua ini merupakan gua horizontal dengan panjang total 950 m. Gua yang tersusun dari batu gamping ini tergenang air yang bersumber dari dalam gua itu sendiri.

Gua Sammani
Gua Sammani merupakan gua horizontal yang terletak di Leang Rakko, Desa Pangja, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Panjang gua ini 400 m. Berbeda dengan Gua Patta, Gua Sammani merupakan gua batu gamping yang kering.

Gua Suleman
Gua Suleman terleetak di Dusun Pattunuang, Desa Samanggi Kec. Simbang. Panjang gua batu gamping ini sekitar 850 m. Kondisi Gua Suleman sedikit berair dan berlumpur. Untuk mencapai gua ini bisa digunakan angkutan dari Makasar-Patunuang Asue dengan waktu tempuh selama 3 jam.

Gua Saripa
Gua Saripa merupakan gua horizontal yang terletak di Dusun Ta’deang, Desa Semanggi, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Untuk mencapai gua ini dapat digunakan angkutan dari Makassar-T’deang dengan waktu tempuh 3 jam. Panjang Gua Saripa kurang lebih 1200 m. Gua batu gamping ini, sama halnya dengan Gua Suleman, sedikit berair dan berlumpur. Sumber air gua ini adalah Sungai Pattunnuang.

Gua Hamid
Gua Hamid terletak di Dusun Ta’deang, Desa Samanggi, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Untuk mencapai gua ini bisa digunakan angkutan trayek Makasar-Ta’deang dengan waktu tempuh selama 3 jam. Sama seperti Gua Patta, gua horizontal ini bersifat kering. Panjang Gua Hamid adalah 500 m. Sumber air gua gamping ini adalah Sungai Pattunnuang.

Gua Anjing
Gua Anjing merupakan gua gamping bersifat horizontal. Gua ini terletak di Dusun Ta’deang, Desa Samanggi, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Lumpur dan air gua berasal air dari Sungai Pattunnuang. Panjang Gua Anjing adalah 400 m.

Gua Saloaja
Gua Saloaja merupakan gua horizontal yang terletak di Dusun Pattunnuang, Desa Samanggi, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Gua ini merupakan gua gamping yang berair. Sumber air Gua Saloaja berasal dari Sungai Pattunnuang. Panjang gua ini sekitar 800 m.

Gua Kharisma
Gua Kharisma merupakan gua horizontal yang terletak di Dusun Kappang, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Gua ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan umum Makassar-Kappang dengan waktu tempuh 3,5 jam. Gua gamping ini kering dengan panjang 330 m. Sumber air untuk gua ini dari mata air di Km 58.

Gua Saleh
Gua Saleh merupakan gua gamping yang terletak di Desa Pangia, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Untuk mencapai gua ini, dari Makassar dapat digunakan kendaraan umum. Makassa-Pangja dapat ditempuh dalam waktu 3 jam. Gua ini merupakan gua kering yang memiliki panjang total 300 m.

Gua Pamelakang Tedong
Pamelakang Tedong memiliki arti “Tempat Pembuangan Kerbau”. Gua Pamelekang Tedong merupakan gua berair yang tersusun atas batu gamping. Gua dengan panjang 151,11 m terletak pada 25 dpl. Gua ini berada di Dusun Bellae, Desa Biraeng, Kecamatan Perwakilan Minasatene, Kabupaten Pangkep.

Gua Katalangang Erea I
Katalangang Erea I mempunyai arti “Tempat Yang Tegelam”. Gua Katalangang Erea I terletak di Dusun Bellae, Desa Biraeng, Kecamatan Perwakilan Minasatane, Kabupaten Pangkep. Gua gamping ini memiliki panjang total 188,01 m dengan kondisi gua yang berair. Gua Katalangang Erea I berada pada tebing yang berjarak 1,5 km dari jalan raya.

Gua Loko Tojolo
Gua Loko Tojolo berada di Dusun Buntu Kayan, Desa Sumilan, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang. Gua ini merupakan bagian dari kawasan karst Enrekang, terletak di dekat Gunung Buttu Kayan. Loko Tojolo berarti ‘Orang-Orang Dulu’

Gua Rabun
Gua Rabun terletak di Dusun Tangsa, Desa Benteng Alla, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang. Gua ini merupakan bagian dari kawasan karst Enrekang dengan gunung terdekat adalah Gunung Buttu Ala. Gua Rabun tersusun dari batu gamping dengan sedimen gua berupa tanah. Rabun mengandung arti ‘Kematian’.

Gunung Balease

Gunung Balease berada pada desa bantimurung bone - bone Kabupaten Luwu utara Sulawesi Selatan, gunung ini terletak di pegunungan yang terbentang dari bone - bone ke Masamba dengan ketinggian 2894 mdpl, akan tetapi kita harus melalui gunung Tolangi dengan ketinggian 3016 mdpl. Di sinilah para pendaki sering salah sangka mengira puncak Tolangi adalah puncak Balease padahal kita mesti berjalan lagi sekitar 3 jam dan melewati beberapa gunung dan lembah .

Alasan itulah kenapa puncak Balease dikatakan puncak tersulit di Sulawesi Selatan, itu di karenakan harus melewati puncak Tolangi dimana pada jalur pendakian ini masih di penuhi hutan dengan vegetasi padat, dan pada jalur pndakian yang curam dan sulitnya sumber air sepanjang jalur ini.

Tips untuk Balease:

* Setiap orang harus siapkan jerigen 5 liter
* Bawalah kerel 50liter saja, jika 70 liter ke atas, menyangkut di jalan
* Ransum di lebihkan 2 - 3 hari
* 5 hari juga bisa, tetapi fisik dan mental harus fit
* Selalu berdoa
* Siap - siap survival
* Tanda - tanda jalur ada pita warna biru, orange, dan kuning.
* Jarang akan terpisah, karena jalurnya sangat padat vegetasi
* Naik pada musim hujan, agar selalu mendapat air
* Selalu memakai lengan panjang, sepatu, dan celana panjang, karena sepanjang jalan banyak duri rotan, dan pacet.
* Hati - hati di seruduk Anoa

Gunung Bawakaraeng

Bawakaraeng adalah suatu penamaan versi terbaru dari gunung yang disakralkan masyarakat Bugis Makassar. Bawakaraeng inilah yang kemudian diekspos secara besar-besaran oleh para antropolog, sosiolog, dan etnographer (peneliti bidang budaya, suku, dan ras) Belanda. Maksud tersembunyi dari penamaan itu agar masyarakat mengalami perubahan atau perombakan keyakinan. Sebelumnya masyarakat Patuntung meyakini bahwa Tuhan tak bias disosialisasikan atau dipersamakan dengan apapun dari mkhluk ciptaan-Nya.

Kemudian muncul keyakinan baru atau sekte sempalan Patuntung bahwa Tuhan ternyata memiliki gambaran dengan ciptaan-Nya. Persamaan itu yakni Tuhan secara konotatif memiliki mulut pada sebuah gunung. Meskipun hanya secara simbolois. Bawakaraeng adalah symbol dari persamaan Tuhan dengan ciptaan-Nya. Dari gunung itu, terdapat bagian dari Tuhan yang bias terlihat, terpegang, terinjak dan bias dipuja-puja. Bagian tersebut adalah mulut-Nya. Sekte sempalan itu berhasil dikontrol Belanda menuju suatu keyakinan keberhalaan. Penamaan Bawakaraeng adalah fundamen keberhalaan tersebut. Bawakaraeng dari segi makna dasar : “Bawa” yang berarti (mulut) dan “Karaeng” yang berarti (Tuhan). Masyarakat meyakini jika telah melihat Mulut Tuhan, maka Tuhan bukan lagi yang Maha Ghaib dan juga Maha Tunggal. Ini proses sistematis Belanda dalam kolonialisme spiritual.

Jika keyakinan masyarakat Bugis Makassar runtuh, maka semuanya akan mudah diruntuhkan. Pelan-pelan dan terencana dengan matang, belanda menyortir semua unsur keyakinan tentang Sang Maha Tunggal dan menggantinya dengan Berhala ber-Tuhan Banyak. Jika keyakinan Patuntung diruntuhkan. Maka pada akhirnya keyakinan Islam yang masih belum lama diterima oleh penganut Spiritual Patuntung akan mudah diruntuhkan pula. Sampai sekarang sekte Sempalan Patuntung itu masih ada dan melakukan ritual mistik di Gunung tersebut. Meskipun unsure ritual itu sudah diadoni dengan bumbu-bumbu ke-Islam-an, tapi karena fundamennya berasal dari keberhalaan bentukan Belanda. Maka ritual itu merupakan suatu Syirik besar, karena mempersekutukan Allah SWT.

Hanya Patuntung versi Kajang yang tidak terpengaruh oleh kolonialisme spiritual ala Bawakaraeng. Nama “Bawakaraeng” tak diakui dalam “Pasang ri Kajang” Belanda sama sekali tidak pernah menjajah atau menduduki Kajang. Tiga kerajaan besar seperti Luwu, Bone dan Gowa, bahkan secara resmi member perlindungan khusus kepada Kajang. Tiga kerajaan itu juga tidak pernah mengekspansi Kajang. Bohe amma Towa, malah menjadi penasehat spiritual di tiga kerajaan, saat terjadi perang antara Gowa dan Bone, Kajang terhindar dari pertikaian berdarah tersebut.

Gowa menganugerahi penguasa territorial Kajang dengan sebutan karaeng (orang yang dimuliakan), tapi istilah “Karaeng” hanya dipakai selama masa jabatan penguasa territorial tersebut, bila masa jabatan berakhir, berakhir pula sebuatan kekaraengan. Jadi di Kajang, tak berlaku istilah Karaeng, sebagaimana lazimnya dalam masyarakat Makassar. Meskipun dari segi wilayah dan suku, kajang masi termasuk suku Makassar, bagi mereka istilah Karaeng tak berarti apapun, kecuali hanya sebagai penghargaan kepada pemerintah. Jadi Karaeng tak pernah bias diartikan sebagai Tuhan atau sesuatu yang di per-Tuhan-kan.
Menurut BapakAbdul Kahar Muslim (Deklarator/pendiri Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dan Tokoh Adat Kajang), nama sejati dari Gunung tersebut adalah Boho Karaeng. Rincian maknanya adalah “Boho” berarti (Puncak) dan “karaeng” berarti (Kemuliaan). Meskipun namnya adalah “puncak kemuliaan” bukan berarti jika seseorang telah mendaki hingga tringulasi, bererti telah mencapai puncak kemuliaan. Istilah itu didasarkan pada spiritualitas Patuntung yang bersifat Ekologis Sentris. Sifat ini berdasarkan pada satu epicenter Teori yakni manusia, lingkungan, hewan, dan tumbuhan berada dalam satu makrokosmos dan mikrokosmos yang tak terpisahkan.

Mendaki menuju “puncak kemuliaan” berarti siapapun yang berada di Gunung tersebut harus berbuat kemuliaan dalam segala niat dan pengalaman. Pendaki tidak boleh melakukan perbuatan terlarang secara etika dan moral. Menurut beliau “Jika kamu sudah mendaki berkali-kali pada BohoKaraeng. Maka belajarlah, latihlah, dan didiklah dirimu selalu dalam kearifan dan kebijakan. Karena itulah makana inti dari kemuliaan pada puncak gunung tersebut.
Jum’at 26 maret 2004 pukul 14.00 wita selama 5 menit terjadi Longsor yang menimbun sebagian kecil persawahan dan pemukiman penduduk Dusun Lengkese (Dusun Bawakaraeng) dan perkebunan di Parangkeke (Panaikang),korban yang dinyatakan hilang berjumlah 32 orang, korban meninggal 9 orang, seorang ditemukan di Lengkese dan 8 orang ditemukan di Lermbah Lowe.
Gunung Bawakaraeng berjarak kurang lebih 75 km dari kota Makassar.Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai.Bawakaraeng terdiri dari bukit - bukit yang berjejer megah. Bukit tertinggi memiliki tinggi sekira 2.700 meter di atas permukaan laut. Untuk mendakinya sampai ke puncak, kita harus menyusuri dua bukit dan 10 pos jalur pendakian. Pepohonan lebat beragam jenis, kabut tipis, sungai kecil, dan pelbagai keindahan alam lainnya akan menghiasi setiap jalur pendakian dari pos ke pos hingga ke puncak.

FENOMENA MISTIS

Pada 1980 - an, seorang pendaki wanita bernama Noni bunuh diri di pos 3 Bawakaraeng. Dia menggantung dirinya di sebuah pohon. Dugaan penyebabnya karena patah hati. Pohon itu masih berdiri hingga kini. Bentuknya angker, seangker kejadian di baliknya. Batangnya besar bercabang, daunnya habis tak tersisa. Bagi yang sudah mendaki Bawakaraeng, pasti kenal betul dengan pohon itu karena pohon itulah yang menjadi penanda pos 3.

Karena alasan mistis, para pendaki enggan mengabadikan pohon itu dalam bentuk foto maupun video. Bahkan mereka juga enggan singgah di pohon itu. Beberapa kesaksian menjelaskan bahwa kejadian aneh terjadi waktu mereka singgah di pohon itu: tiba - tiba hujan, angin kencang, dan lainnya, entahlah!

Beberapa pendaki juga meninggal di Bawakaraeng. Badai, suhu dingin, kelaparan, adalah sebagian dari penyebabnya. Pusara yang terpasang menjadi penanda sejarah mereka. Paling terakhir, meninggalnya dua mahasiswa Geologi Universitas Hasanuddin, Awy dan Iccank, di Pos 5 karena badai.


RITUAL DI BAWAKARAENG

Setiap hari raya Idul Adha, banyak warga dari berbagai daerah menuju ke puncak Bawakaraeng untuk melakukan salat Idul Adha dan ritual. Mereka datang sehari sebelum hari raya dan bermalam di puncak dengan bekal dan pakaian seadanya. Esok subuh, mereka pun memulai salat Idul Adha dan ritual. Mereka memberikan sesajian - sesajian untuk mencari berkah dan keselamatan: gula merah untuk mencari manisnya dunia, kelapa untuk mencari nikmatnya dunia, lilin untuk mencari terangnya dunia, dan sebagainya.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa warga ke puncak Bawakaraeng untuk melaksanakan ibadah haji, tapi pendapat tersebut dibantah oleh Tata Rasyid, penjaga dan penolong Bawakaraeng. Dia menegaskan, " Yang benar itu warga naik ke puncak untuk lebaran haji, bukan naik haji. Naik haji itu di Mekkah."

Untuk mencapai puncak Bawakaraeng terdapat beberapa alternative jalur yang dapat ditempuh. Namun jalur Lembanna-Bawakaraeng merupakan jalur yang paling banyak dipilih oleh para pendaki. Desa Lembanna yang terletak di kaki Gunung berada di ketinggian 1400 mdpl dapat dicapai dengan perjalanan darat selama 3 jam dari kota Makassar.

Rute Pendakian: Makassar-Lembanna-Bawakaraeng
• Pendakian dimulai dari Desa Lembanna menuju Pos 1 dengan melewati perkebunan sayur penduduk dan hutan pinus dengan jarak tempuh 45 menit.
• Pos 1 menuju Pos 2, waktu tempuh waktu 45 menit.
• Pos 2 menuju Pos 3, medannya belum terlalu sulit sehingga dapat ditempuh selama 15 menit, di Pos 3 terdapat aliran sungai kecil yang jernih dan beberapa tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda.
• Pos 3 menuju Pos 4, waktu tempuh 45 menit.
• Pos 4 menuju Pos 5, waktu tempuh 60 menit, di Pos 5 terdapat sumber air.
• Pos 5 menuju Pos 6, mulai mendaki dan agak terbuka karena terdapat banyak pohon tumbang sepanjang perjalanan, waktu tempuh 60 menit.
• Pos 6 menuju Pos 7, waktu tempuh 45 menit.
• Pos 7 menuju Pos 8, waktu tempuh 60 menit, di Pos 8 terdapat sumber mata air yang dikenal dengan sebutan Telaga Bidadari.
• Pos 8 menuju Pos 9, waktu tempuh 45 menit, selama perjalanan kita dapat menikmati keindahan padang Edelweis.
• Pos 9 menuju Pos 10, waktu tempuh 30 menit, di Pos 10 terdapat Triangulasi yang menandakan Puncak Bawakaraeng pada ketinggian 2705 mdpl.

Menuju Puncak terdapat beberapa alternative :
1. Makassar-Lembanna-bawakaraeng : 3 hari PP
2. Makassar-Kanreapia-Bawakaraeng : 3 hari PP
3. Makassar-Tassoso-bawakaraeng : 3 hari PP
4. Makassar-Tabuakkang/Balantijeng-bawakaraeng : 3 hari PP
5. Makassar-Lanying/Loka Lompobattang_Bawakaraeng : 4 hari PP
6. Makassar-Lembang Bu’ne Lompobattang : 4 hari PP
7. Makassar-Majannang/Raulo Lompobattang-Bawakaraeng : 5 hari PP
8. Dll…..


"Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya"
(Soe Hoek Gie)


Sumber: Buletin Lembanna Edisi XI & Blantara Indonesia
Dokumentasi : Korpala Unhas


Gunung Bulusaraung

Gunung Bulusaraung merupakan salah satu gunung yang di kelola langsung oleh pemerintah setempat, gunung Bulusaraung merupakan gunung wisata yang selalu ramai dikunjungi baik masyarakat lokal maupun luar makasar sendiri yang ingin menyaksikan keindahan yang terdapat di gunung ini,gunung ini ternasuk kedalam wilayah Taman Nasional Batimurung Bulusaraung. Taman Nasional ini terbagi kedalam empat zona yaitu zona inti (sanctuary zone), zona rimba (wilderness zone), zona pemanfaatan intensif (intensive use zone), dan zona penyangga (buffer zone). Berdasarkan informasi yang didsapat oleh tim pendakian jejak lampung di sulawesi pembagian zona ini berdasarkan pada hasil pertimbangan potensi kawasan dan urgensi masing-masing zona.

          Pada Taman Nasional ini terdapat sekitar 248 species tumbuhan yang hidup dan menghuni kawasan taman nasional ini.terdapat juga jenis fauna yang endemic di temukan di kawasan ini, diantaranya adalah Kera hitam (maccaca maura) , Burung Enggang kecil (penelopides caseduik), burung Enggang besar (rhiticherius caseddik), Kupu – kupu (triodes holiptron), Kuskus Beruang (pharangerursius), musang (macrogolidia masenbraiki).
Berdasarkan informasi yang didapat dari petugas Taman Nasional Batimurung Bulusaraung, Taman Nasional ini mempunyai banyak potensi pariwisata diantaranya adalah gua pattunuang dan aliran sungai patunuang yang membelah dua kawasan ini.juga ada batu besar yang dipercayai oleh masyarakat sekitar sebagai kapal kandas yang membatu (biseang labboro).yang paling menarik pada taman nasional ini terdapat unit penangkaran kupu-kupu yang dikelola oleh UKSDA sul-sel dan masyarakat setempat tempat ini dijuluki dengan wilayah kerajaan kupu-kupu,trdapat juga air terjun yng tak kalah menariknya yang selalu ramai di kunjungi masyarakat terutama pada masa liburan, serta populasi fauna endemic sulawesi.

           Dengan melihat potensi-potensi yang ada ditaman nasional ini tak heran banyak orang datang untuk mengunjungi dan melihat baik dari kalangan masyarakat,mahasiswa dan pelajar yang datang dari Sulawesi, luar Sulawesi bahkan dari luar Indonesia sendiri.
Gunung Bulusaraung berada di Kecamatan Pangkep dan kecamatan Maros.Untuk mencapai gunung ini, dari Makassar kita harus naik mobil sampai di desa Tompobulu (desa terakhir Gunung Bulusaraung) yang terletak di Kabupaten Pangkep dengan lama perjalanan adalah selama 3 jam.

          Bagi siapa saja yang akan mendaki Gunung Bulusaraung harus memasukkan surat permohonan izin pendakian ke Balai Taman Nasional Batimurung Bulusaraung minimal 3 hari sebelum pendakian. Surat izin mendaki memang wajib diurus bagi siapa saja yang akan mendaki Gunung Bulusaraung karena sejak tahun 2007, Gunung Bulusaraung sudah masuk dalam kawasan Balai Taman Nasional Batimurung Bulusaraung yang kantor pusatnya terletak di kabupaten Maros, dan di bagi dalam 2 seksi yaitu Kantor Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I di desa Kabba kabupaten Pangkep dan Kantor Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II di Kabupaten Maros.
          Gunung Bulusaraung tidak susah untuk di daki, bahkan untuk mencapai puncaknya Cuma dibutuhkan waktu 2 jam. Gunung ini mempunyai 10 pos, dan dari pos kepos Cuma di butuhkan waktu 15 menit mendaki.
Pos 1 sampai dengan pos 4 telah disediakan oleh Taman Nasional tempat untuk beristirahat berupa saung berukuran 3X3 m. Sedangkan tempat yang cocok untuk tempat Ngecamp adalah pos 9. Selain lokasi tempat ngecampnya luas, di pos 9 ini juga terdapat sumber mata air.
Dari pos 9 cuma di butuhkan waktu 15 menit untuk sampai di puncak, dengan jalan yang mendaki dan terjal karena banyak bebatuan. Di puncak gunung Bulusaraung juga terdapat tugu kecil yang menandakan puncak dan juga terdapat pemancar radio milik BTNBB.



Dokumentasi: Korpala Unhas

Puncak Rantemario


          Secara Goegrafis Gunung ini Terletak di utara daerah kabupaten Enrekang, selatan daerah TanaToraja, dan sebelah tenggara daerah Kabupaten Polewali.

AKSES KE SANA
MAKASSAR - ENREKANG - BUNTUDEA ( Baraka )
          Dari Pusat Kota Makassar Pendaki Dapat menggunakan Mobil Angkot (Pete-pete) Menuju Ke terminal Daya Dengan tarif Rp 3000/org. Dari Terminal daya langsung Carter Mobil Enrekang Rp.50.000/org yang langsung menuju ke Baraka sebuah kota kecamatan yang memakan waktu 4-5 Jam. Dari sini perjalanan dilanjutkan menuju Gura yang mamakan waktu selama 2 jam sepanjang lintasan terdapat jurang menganga dengan kedalaman 300 m, jalan tersebut sangat rentan longsor dimusim hujan, maka disini rawan sekali kecelakaan.

          Kampung Buntudea Kecamatan Baraka, kabupaten Enrekang merupakan perkampungan kecil yang berada di ketinggian 1500 Mdpl sebagi entry point. Dari sini pendaki harus berjalan kaki pada lintasan setapak yang licin dan berlumpur dengan melewati gugusan jurang yang cukup curam yang rata-rata kedalamannya 300 m dari permukaan air sungai yang mengalir direlung-relung jurang. selain itu pendaki juga akan melewati perkebunan kopi dan jagung.

RANTELEMO-POS 1
Pada star awal perjalanan pendaki akan dihadapkan pada lintasan yang menanjak dengan vegetasi pepohonan yag jarang sehingga jaika penadakian dilakukan pada siang hari akan sangat melelahkan. Dalam perjalanan menujhu pos 1 pendaki akan melintasi sekitar 7 bukit, setelah itu menurun menurun menuju sebuah sungai selebar 5 m dan harus disebrangi. Setelah menyebrangi sungai tersebut pendaki akan dihadapkan kembali pada sebuah bukit dengan tanjakan yang cukup curam membentang sepanjang 100 m. setelah itu barulah pendaki tiba di pos 1.

POS II - POS III
Pos II terletak di ketinggian 1998 Mdpl, kondisi daerah ini cukup sempit, dengan luas dataran 2x3 m. Namun dem,ikian sangat kondusif untuk bermalam karen a terdapat sebuah sungai. Selepas pos II pendaki akan berjalan menuju lembah yang dalam selama 1 jam dan kembali menapaki tebung yng curam, sepanjang rute ini pendaki dianjurkan waspada karena lintasan ini merupakan yang terberat. setelah itu lintasan sudah mulai tidak berat. menuju pos II diperlukan waktu 2 jam.

Pos III - POS IV
Sepanjang lintasan pos III - IV, medannya menanjak secara stabil sehingga sangat melelahkan dan menjemukkan, namau sepanjang perjalanan banyak terdapat tanaman anggrek liar yang dapat menyedapkan mata.

POS IV - POS V
Pos V berada di ketinngian 2.700 Mdpl. Area sekitarnya dikelilingi oleh pepohonan berukuran besar. Menuju pos VI hawa mulai terasa dingin namun jalur tetap menanjak.

POS VI - POS VII
Di pos VI medan sudah memasuki vegetasi pepohonan subAlpin yang mulai mengecil dan kerdil. Untuk menuju ke pos selanjutnya pendaki harus menapaki empat bukit kecil yang memiliki padang terbuka, selam 1-2 jam.

POS VII - PUCAK RANTE MARIO



           Pos VII berada diarea yang terbuka pada ketinggian 3478 Mdpl. Dari area ini pendaki dapat melakukan summit attack menuju puncak pada pagi hari. Waktu tempuh untuk sampai di pos terakhir adalah 45-60 menit. dari pos terakhir ini puncak Rante Mario masih belum tampak. medan menuyju puncak sangatlah berdebu dan panas saat musim kemarau. Kira-kira 30 menit perjalanan puncak tertinngi di Sulawesi ini barulah kelihatan. Setiba dipuncak pendaki dapat menyaksikan bentangan alam Latimojong yang berbukit-bukit eksostis.



Dokumentasi: Korpala Unhas

Lembah Ramma

Sebuah lembah luas berumput di kaki gunung Bawakaraeng. Dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki dengan medan yang mendaki dan menurun bersama dengan pohon pinus yang siap menemani selama 3-4 jam dari Desa Lembanna. Bukit dan gunung yang memagari menjadi pemandangan yang menarik di tempat ini. Siang hari langit biru menyelimuti dengan awan indahnya sedangkan malam hari lembah ini berselimut hitam dan taburan bintang. Anak sungai di mana-mana, airnya segar mengalahkan minuman bermerk.
Tiap hari Sabtu dan Minggu, Lembah Ramma ramai didatangi kelompok-kelompok pencinta alam dan mahasiswa. Biasanya, kelompok pencinta alam ke Ramma melalui Kampung Lembanna, Kelurahan Bulu Tana, Kecamatan Tinggi Moncong. Jalur yang cukup landai dengan sajian pemandangan yang sangat indah membuat lembah ini, menjadi lokasi favorit kelompok pencinta alam untuk berakhir pekan.
Lokasinya tersembunyi di antara lereng terjal. Cocok buat si petualang sejati. Perjalanan menuju Lembah Ramma harus menembus kawasan hutan, Awalnya, jalan setapak yang dilalui ini sama dengan jalur yang digunakan menuju puncak Gunung Bawakaraeng yang terkenal. Tapi setibanya di pertigaan diantara pos 1 ke pos 2 belok jalur kanan, bertandakan Batu Besar yang diatasnya bertuliskan Ramma.
Setibanya di puncak sebuah bukit, Anda bisa menikmati keindahan alam yang terpampang di depan mata. Dari sini pula mulai tampak lembah yang berwarna hijau membentang luas, yang dibelah sebuah sungai kecil. Sangat mengagumkan!

Saat menuruni bukit diperlukan kewaspadaan dalam memilih pijakan. Selain agak terjal, jalur ini juga dipenuhi bebatuan. Salah memilih pijakan, bisa menyebabkan kaki tergelincir- bahkan terkilir. Dengan jalan berhati-hati, kurang dari setengah jam Anda akan menjejakkan kaki di dasar lembah. Tibalah Anda di ketenangan dan ketentraman atmosfir Lembah Ramma.
Seluruh komponen alamnya berupa padang rumput yang luas, sungai kecil, telaga, dan air terjun, membentuk panorama alam yang menakjubkan. Lereng gunung yang mengelilinginya berdiri kokoh bak dinding benteng yang siap melindungi lembah ini.
Selain pesona alam. Lembah Ramma juga menyimpan keunikan lain. Lembah yang berada di ketinggian sekitar 1.600 mdpl ini, dijadikan lahan penggembalaan oleh penduduk setempat. Mereka melepas sapi atau kuda dan meninggalkannya dalam waktu lama.

Dokumentasi : Korpala Unhas

Keindahan Pulau Kapoposang

         Seminggu lamanya kami persiapkan segala keperluan untuk dapat melalukan petualangan Bahari di Pulau Kapoposang. Mulai dari persuratan yang menjadi keharusan untuk dilengkapi, makanya dibutuhkan surat izin masuk kawasan konservasi (SIMAKSI), Berdasarkan keputusan dari Kementerian Kehutanan melalui SK No. 588/kpts-II/1996 tanggal 12 September 1996, telah ditetapkan bahwa Pulau Kapopposang dan sekitarnya sebagai kawasan konservasi berupa Taman Wisata Alam Laut (TWAL). Kurangnya aksesibilitas menuju lokasi tersebut, menjadi hambatan terberat yang kami alami. Karena tidak ada jadwal kapal reguler menyebabkan pulau ini tidak mudah untuk dijangkau.

           Bila ingin disamakan keidahan Pulau Bunaken, Pulau Kapoposang lah yang pantas. Kita akan berdecak kagum dengan keindahan hamparan pasir putih yang membentang dari utara ke selatan. Ditambah dengan riuh gemuruh pohon kelapa, menambah evoria untuk dapat berlama-lama di pulau tersebut. Namun belum lengkap rasanya bila belum menikmati keindahan bawah laut pulau Kapoposang.

           Secara administratif pulau Kapoposang berada di Desa Mattiro Baji, Kecamatan Liukang Tuppabiring, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Propinsi Sulawesi Selatan. Terletak pada bagian terluar kawasan Kepulauan Spermonde. Berdasarkan pemanfaatannya luas wilayah daratan ± 297.990 Ha, yang dibagi atas tiga bagian yaitu kawasan pemukiman, semak, dan kebun pohon kelapa. Lama perjalanan dapat ditempuh ± 4 jam menggunakan perahu tradisional (Jolloro’) dari Makassar. Menurut data yang ada daratan pulau Kapoposang diperkirakan telah dihuni sejak 300 tahun lalu (abad ke-16), oleh nelayan suku Bugis. Oleh sebab itu bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Bugis.

           Aktifitas masyarakat setempat adalah sebagai nelayan dengan memanfaatkan potensi laut: jenis ikan, taripang, dan rumput laut. Peralatan yang digunakan sangatlah sederhana (tradisional), kebanyakan masih menggunakan pancing ulur (hand line). Namun selain itu, adapula yang menggunakan jaring (gae). Adapun sistem pemasaran yang dilakukan para nelayan memiliki rantai penjualan yang amat singkat (Nelayan-Penadah-Konsumen).
Lokasi Pulau Kapopposang merupakan pulau paling terluar dari gugusan pulau-pulau Spermonde. Keidahan alam masih terjaga dari kerusakan yang parah. Letaknya yang sangat strategis, dimana dapat dijangkau dari P. Kalimatan, Bali dan Jawa merupakan suatu peluang untuk dikembangkan untuk daerah pariwisata.

           Besarnya potensi keanekaragaman hayati ekosistem terumbu karang disekitar pulau ini, menunjukkan bahwa kawasan pulau Kapoposang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan beberapa kawasan lain di dunia. Bahkan beberapa ahli karang dan ikan karang dunia menyatakan bahwa kawasan perairan Pangkep termasuk kawasan karang dunia yang memiliki keaneka ragaman hayati karang sangat besar. Banyaknya fauna langka dan bernilai ekonomis tinggi yang dilindungi secara internasional oleh CITES (Convention onInternational Trade of Endangered Species) dan / atau Undang-undang Perikanan, antara lain kima, ketam kelapa, penyu dan ikan napoleon.



Referensi: Catatan Perjalanan MH. ADAM “Achyl”
Dokumentasi :Korpala Unhas

Tebing Bambapuang

          Bambapuang adalah nama salah satu desa dimana tebing Bambapuang berada, secara administrative, Desa Bambapuang berada dalam wilayah Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Kondisi geografis Bambapuang adalah wilayah pegunungan yang didominasi oleh hamparan batu gamping yang membentuk bukit-bukit terjal. Ketinggian wilayah bervariasi berkisar 1000-1100 mdpl. Pengaruh ketinggian ini merupakan salah satu peyebab cuaca yang relative dingin di Bambapuang seperti halnya daerah ketinggian lainnya di Enrekang.

           Kalangan penggiat alam terbuka lebih mengenal daerah ini karena keberadaan Gunung bambapuang (1100 mdpl) utamanya para pemanjat tebing, Karena pada bagian selatan gunung Bambapuang terdapat tebing dengan ketinggian rata-rata 80-150 meter. Bahkan keberadaannya telah telah menjadi kiblat kegiatan panjat tebing yang dating dari penjuru tanah air. Tercatat lebih dari 30 tim telah mendatangi tempat ini.
Gunung Bambapuang adalah rangkaian dari hamparan batu gamping Formasi Makale dan Toraja yang memanjang dari selatan ke utara. Daerah penyebaran batuan mulai dari Enrekang sampai ke Tana Toraja. Selain sebagai daerah yang diminati kalangan petualang, Panorama alam yang dimiliki Bambapuang merupakan salah satu daya tarik tersendiri sehingga banyak orang mengunjungi tempat ini untuk tujuan berlibur atau rekreasi. Obyek wisata alam yang ditawarkan berupa pemandangan aliran sungai Sa’dang disebelah barat dan pemandangan Buntu Kabobong di bagian timur yang dapat dinikmati bebas dari puncak Bambapuang. Untuk keperluan wisata, pendakian Bambapuang biasanya melewati jalur utara, waktu tempuh sekitar 2 jam dari Dusun Kasambi yang berada tepat di kaki Gunung Bambapuang.
          Lereng-lereng disekitar Bambapuang pada umumnya dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan pertanian. Komoditi unggul yang dibudidayakan petani setempat adalah tanaman hortikultura seperti kentang, Lombok, bawang, jagung, kacang tanah, dan buah-buahan seperti papaya, jeruk, rambutan dll.
Sebelah selatan Bambapuang terdapat Dusun Kotu yang merupakan perkampungan terdekat untuk mengakses tebing bagian selatan Bambapuang. Dasar tebing dapat diakses dari Dusun Kotu dengan berjalan kaki berupa jalan setapak sejauh 3 kilometer. Pada musim kemarau, jalanan dapat dilewati kendaraan roda dua (motor).

           Lokasi Tebing Bambapuang dapat diakses dengan Mobil Bus dari Makassar-Enrekang melewati beberapa Kabupaten yaitu : Maros, Pangkep, Barru, Kota Madya Pare-Pare, dan Sidrap, Waktu tempuh rata-rata 6-7 jam samapi Dusun Kotu Desa bambapuang Kabupaten Enrekang. Dusun Kotu berada pada jalur poros Enrekang menuju Tana Toraja.

Dokumentasi: Korpala Unhas

Tebing Lakisan Enrekang

Tebing Lagisan yang terletak di daerah Anggeraja, Kabupaten Enrekang menjadi ujian selanjutnya bagi para bajing setelah membuat 3 jalur baru di tebing Lopi-Lopi,Leang-Leang, Kabupaten Maros. Sebelum menjajal cadas Lagisan setelah sempat vakum selama 3 tahun dalam pembuatan jalur di tebing oleh para bajing di divisi panjat tebing KORPALA UNHAS akhirnya pada tanggal 21 – 24 Januari 2011 dengan mengambil nama team bajing is back…# 1 memulai petualangan memanjat dengan membuat 2 jalur baru yaitu jalur artificial “bajing is back” dengan ketinggian ± 45 meter dan jalur sport “ tangga bambu” ± 12 meter di tebing Lopi-Lopi,Maros yang beranggotakan 8 orang yaitu : Chummink469,Fadli,Ichi,Nanank,Madhi,Ucham,Aroel and Lumay. Selanjutnya di bulan februari 2011 pada tanggal 12-15 team bajing is back…#2 kembali menjamah tebing Lopi-Lopi,Kabupaten Maros dengan menyelesaikan jalur artificial setinggi ± 65 meter. Jalur ini diberi nama Jalur Almarhum (Ismed) “in the End”. Penamaan jalur ini untuk mengenang almarhum Ismed Wahyudi dan Kadir J yang pertama kali memanjat di jalur ini dan telah meminta persetujuan saudara Rimba yang ikut memanjat dan menjadi mentor bagi kedua almarhum . Setelah 5 kali diadakan pemanjatan di jalur ini dengan team yang berbeda akhirnya jalur ini selesai juga hingga puncak tebing. Team bajing is back…# 2 sebagai team ke 5 yang memanjat di jalur ini beranggotakan 7 orang yaitu : Chummink469,Jalal,Fadli,Ichi,Nanank,Baim, dan Lumay.
Tibalah saatnya para bajing menjajal big wall Lagisan yang berada di Kabupaten Enrekang. Setelah pertama kali dipanjati pada tahun 1995 yang terhenti di ketinggian ± 75 meter tidak pernah ada lagi pemanjatan di tebing Lagisan. Pada tanggal 28 februari sampai 4 Maret 2011 team bajing is back…# 3 melakukan pemanjatan dengan sukses sampai puncak tebing Lagisan dengan ketinggian ± 130 meter yang diberi nama “ Jalur project 22A”.

Team pemanjat/climber membuat VI pitch disebabkan jalur ditengah tebing yang sering traverse dan memiliki teras sehingga dapat membuat tali manjat patah dan friksi. Kondisi dasar tebing yang untuk mencapainya harus melalui jalur scramling yang panjang memaksa membuat beberapa angkor untuk lintasan di jalur scramling tersebut sehingga diputuskan setelah mencapai ketinggian ± 45 meter team pemanjat/climber melakukan alpine beralaskan cadas tebing Lagisan selama 3 malam. Kondisi batuan yang rapuh membuat pemanjat harus ekstra hati-hati dan menggunakan helmet standard untuk menghindari batu jatuh. Setelah 5 hari bergelut dengan kerasnya cadas Lagisan akhirnya team bajing is back…# 3 mecapai puncak tebing dengan penuh rasa syukur. Kali ini team bajing is back…#3 beranggotakan 8 orang yaitu Jalal,Chummink469,Fadli,Ahmad,Fahmi,Rimba,Lumay dan Laga.
Akhir kata team bajing is back…#3 mengucapkan special thanks kepada saudara-saudara di Korpala yang masih memiliki adventure soul dan telah memberikan sumbangan yaitu : idham(11),halim(11),Laga(11),erni(11),Syam(14),Ardi(14),Isma(15),Haryadi(17). Karena spritmu lah saudara-saudaraku se- KORPALA team bajing is back…dapat memanjat lagi.
to be continued…

(Enrekang, 5 Maret 2011, bajing is back…)
Penulis : Lumay
Dokumentasi : Korpala Unhas



Tebing Tontonan (Mandu)

Kabupaten Enrekang memang menawarkan objek petualangan yang sangat menarik. Media petualangan yang sangat menantang menjadikan Kab. Enrekang sebagai idola bagi penggiat alam bebas di Sul-sel. Gunung tinggi, Gua, Tebing-tebing dengan ketinggian rata-rata diatas 100 meter adalah ciri khas daerah ini. Dearah ini juga dikenal dengan hasil pertanian yang sangat terkenal dimana-mana. Diantaranya Salak Duri, Bawang, Kentang dan hasil tani lainnya. Secara admistrati tebing ini terletak di Dusun Tontonan, Kelurahan Tanete, Kec. Anggeraja. Dan secara geografis terletak pada E = 119' 48' 40" BT dan 3' 25' 13" LS

Diantara tebing-tebing yang terdapat di enrekang, Tebing Mandu' (Tontonan adalah tebing yang sangat menantang dari tebing-tebing yang lain. Tebing ini juga dikenal dengan kuburan tuanya yang sampai sekarang masih ada. Jejeran kuburan Tua (Mandu') yang berjejer disepanjang dasar tebing adalah sebuah warisan leluhur yang patut untuk kita jaga dengan baik. Terjalnya tebing Mandu ini jaka dilihat dengan sepintas seolah tanpa ada cacat batuan sehingga membuat para pemanjat untuk menjakinya.

Banyak para panjat tebing yang telah melakukan pemanjata ditempat ini diantaranya , KORPALA UNHAS, MAPALA POLITEKNIK, MAPALA 45 MKS, METRO EXPDTION, MAPALA UMI, TIM PUTRI SERITI dll.

Tebing ini berada tepat dipinggir jalan poros sehingga hampir seluruh masyarakat mengetahui jika ada pemanjatan yang dilakukan ditempat ini. Untuk menuju ke titik pemanjatan ada hal yang menantang yang harus kita lalui yaitu menyeberangi sungai yang sedikit deras. Dari permukaan sungai ke titik pemanjatan harus dilakukukan dengan pemanjatan Artificial setinggi 20 meter dengan melewati banyak pohon-pohon kaktus yang siap menancapkan duri tajamnya ditubuh kita. Dan pemanjatan akan lebih seru jika kita menggunakan Tyrolean untuk aktivitas penyeberangan. Kekokohan dinding-dinding batu tebing Mandu akan menjadi tantangan para pemanjat.

Nama-nama Tebing di Kab. Enrekang
1. Tebing Bambapuang 170 meter, Dusun.Kotu, DEsa.Bambapuang, Kec.Anggeraja
2. Tebing Mandu'/Tontonan 140 meter, Dusun.Tontonan, Kel. Tanete, Kec. Anggeraja
3. Tebing Mammiri/Tontonan 150 meter, Dusun.Tontonan, Kel. Tanete, Kec. Anggeraja
4. Tebing Rawinta/Cakke' 120 meter, Kec. Anggeraja
5. Tebing Buntu Batu 140 meter, Dusun.Panyurak, Desa Panyurak, Kec. Pasui/Baraka
6. Tebing Lakisan 80 meter, Dusun.Kotu, DEsa.Bambapuang, Kec.Anggeraja
7. Dan lain-lain.

Dokumentasi: Korpala Unhas