Ankor XX

madhy-adventures.blogspot.com.

Ankor XX

TWKM XXII PONTIANAK.

Sabtu, 03 September 2011

REUNI AKBAR SMU NEGERI 1 BONTOBAHARI, KAB. BULUKUMBA

Untuk yang pertama kalinya alumni SMU Negeri 1 Bontobahari Kab. Bulukumba akan mengadakan Reuni Akbar mulai Angkatan 1985-2011. Kegiatan yang berlangsung tanggal 3 september 2011 akan mengusung tema “Berkumpul, Bersaudara, Brnilai, dan Bermanfaat”. Nasrum Syam selaku ketua panitia menuturkan kegiatan ini sebagai langkah awal menjalin tali silaturrahmi antar alumni SMU Negeri 1 Bontobahari. Bupati Bulukumba, Kepala Dinas Pendidikan, dan anggota DPRD Kab. Bulukumba turut hadir mengisi acara tersebut, dan yang paling penting tokoh-tokoh dari berbagai penjuru Nusantara alumni SMU N.1 Bontobahari meluangkan waktu untuk hadir dalam acara tersebut Kegiatan ini dirangakaikan dengan beberapa item kegiatan: donor darah, green school, Live music performance.

Kegiatan yang dimulai pukul 11.00 Wita berlangsung dengan lancar setelah ketua panitia nasrum syam memberikan kata sambutan dan mengucapkan terima kasih kepada segenap alumni SMU N.1 Bontobahari atas partisipasi dan dukungannya sehingga kegiatan ini dapat terlaksana pada waktu yang telah direncanakan, dilanjutkan dengan kesan dan pesan yang disampaikan oleh perwakilan alumni yang menghidupkan kembali kenangan yang selama bertahun-tahun terpendam, sehingga pada saat itu pula rasa rindu akan teman-teman angkatan sedikit terobati setelah kembali bertemu kangen. Banyak sekali suka duka yang disampaikan menimbulkan tawa dari alumni ketika mengingat kembali kisah-kisah itu. Pada kesempatan yang sama Andika Mapasomba sastrawan yang merupakan salah satu alumni SMU Bontobahari turut menyumbangkan beberapa buah buku dan puisi-pusi karyanya sendiri, suasana pada saat itu sangat hidup karena puisi-puisi yang dibawakannya mengundang tawa para alumni.
Bapak Bupati Bulukumba mengapresiasi kegiatan ini agar tahun berikutnya dapat dilaksanakan kembali. Beberapa aspirasi yang disampaikan alumni telah disampaikan guna mendukung kemajuan SMU N.1 Bontobahari, salah satu sarana yang akan diupayakan oleh beliau yaitu sarana olah raga berupa lapangan basket dan tenis lapangan.

Setelah memberikan kata sambutan, Bapak Bupati menyempatkan diri membawakan dua buah lagu sehingga para alumni yang hadir bersorak ceria, ternyata Bapak Bupati juga manusia biasa yang memiliki jiwa seni. Bapak Bupati juga telah melakukan penanaman pohon di halaman sekolah sebagai rangkaian kegiatan green school.

Puncak acara Reuni Akbar SMU N.1 Bontobahari ditutup setelah terpilihnya kanda Asri Yusuf SH, sebagai Ketua pertama Ikatan Alumni SMU N.1 Bontobahari. Semoga substansi dari acara tersebut dapat tecapai yakni menjalin tali silaturrahmi antar alumni SMU N.1 BONTOBAHARI.


Naskah:Kurniawan & Madhy

Selasa, 23 Agustus 2011

Avril Lavigne


Avril Ramona Lavigne Whibley (Tentang suara ini pelafalan Perancis (bantuan·info)(lahir di Kanada, 27 September 1984; umur 26 tahun), atau lebih dikenal dengan nama Avril Lavigne, adalah seorang penyanyi pop-punk, musisi, dan aktris asal Kanada. Pada tahun 2006, Majalah Bisnis Kanada memposisikannya dalam posisi ke-7 wanita Kanada paling mengagumkan di Hollywood, dan pada tahun 2007 dia memenangkan 9 nominasi Jabra Music Contest untuk kategori Best Band In The World, berdasarkan pilihan penggemar diseluruh dunia.

Hingga kini, Lavigne telah merilis 3 buah album studio, yaitu Let Go (2002) yang terjual lebih dari 19 juta diseluruh dunia dengan 9 juta di US, Under My Skin (2004) yang terjual lebih dari 12 juta diseluruh dunia dan 4 juta di US, dan The Best Damn Thing (2007) yang terjual lebih dari 9 juta dan 2,5 juta di US. Lavigne juga telah memproduksi delapan singel internasional, diantaranya adalah "Complicated", "Sk8er Boi", "I'm with You", "Don't Tell Me", "My Happy Ending", "Girlfriend", "When You're Gone" dan "What The Hell". Lavigne pun mengisi soundtrack untuk film Alice in Wonderland dengan lagu yang berjudul "Alice". Ia telah menjual rekaman album dan singelnya sebanyak kurang lebih 45 juta diseluruh dunia.

Senin, 01 Agustus 2011

BAHAGIAKU SURGA MEREKA DAN DERITAKU PILU MEREKA (Karya Feby)

Aku berdiri berdiri mengenakan toga ini
di sebuah jalan setapak yang gelap
pandanganku tertuju pada dua orang di kejauhan sana
dengan senyuman yang tak asing di mataku
dua orang yang sangat aku hargai,
dua orang yang sangat aku hormati
aku cintai dan aku sayangi ya.. mereka papa dan mamaku...

Dengan di sertai senyuman aku berjalan menghampiri mereka
seiring dengan langkah terlintas di benakku
atas apa yang telah mereka lakukan terhadap hidupku selama ini
mama yang telah mengandungku selama sembilan bulan
mama yang sudah memperjuangkan hidup dan matinya hingga aku dapat hadir di dunia ini
mama juga yang telah merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang
papa yang telah mendidikku, papa yang rela bekerja banting tulang
ikhlas.. mengeluarkan keringatnya agar aku dapat menikmati hidup
detik demi detik, hari demi hari, bahkan tahun demi tahun

Apakah yang dapat kulakukan untuk membalas mereka
sering aku tutup kuping ngak mau dengerin nasehat mereka
sering banget aku bohong kepada mereka untuk kepuasanku
sering aku ngelawan jika mereka marah karena kenakalanku
sering juga aku banting pintu di hadapan mereka
jika mereka tidak mengabulkan permintaanku
dan bahkan sering aku mngeluarkan kata kata kasar
yang ngak pantas mereka dengar dari bibirku
dasar cerewet, kuno, kolot

Tapi apakah mereka memendam rasa dendam terhadapku
tidak... tidak sama sekali mereka dapat tulus memaafkan kekhilafanku
mereka tetap menyayangiku dalam setiap hembusan nafas mereka
bahkan mereka tetap menyebut namaku dalam setiap doa doa mereka
hingga aku menjadi seperti sekarang ini
ya tuhan... betapa durhakanya aku tak sadarkah aku
bahwa mereka orang yang sangat berarti dalam hidupku

Langkah-langkahku terhenti di hadapan mereka
dan kupandangi papa dan mamaku inchi demi inchi
badan yang dulu tegap, kekar, kini mulai membungkuk
rambut yang dulu hitam kini mulai memutih
dan kulit mereka yang dulu kencang kini mulai berkriput
kutatap mata mereka yang berbinar-binar dan mulai meneteskan air mata bahagia
air mata haru, air mata bangga melihatku memakai toga ini
kucium tangan mereka, kupeluk mereka sambil berkata
Papa... Mama... yang aku berikan hari ini tidak akan cukup
membalas semua yang telah Papa dan Mama berikan selama ini kepadaku
terima kasih ma... terima kasih pa...
aku sayang papa dan mama sampai akhir hayatku

Selasa, 22 Maret 2011

Crop Circle Yang Sesungguhnya

Crop Circle sedang menjadi fenomena, ada yang yakin itu buatan UFO, ada yang yakin buatan manusia. Tetapi, apa yang kita pikirkan setelah ini? Bingung yang pasti dan tak begitu peduli karena tak berpengaruh apa - apa dalam hidup kita, dan akhirnya banyak tuduhan yang dialamatkan pada penguasa negeri ini, bahwa hadirnya fenomena Crop Circle hanyalah pengalihan issue untuk sedikit membuat orang Indonesia lupa dengan permasalahan penguasa negeri, semisal kasus Gayus, Century, Lapindo, Presiden SBY si tukang curhat yang minta naik gaji secara halus dan lain - lain perkara. Dan saat ini seperti yang telah di prediksikan, saat Presiden dan Demokrat di ganyang kesana kemari, muncul kabar tentang Teroris di Sukoharjo dan Klaten! Pengalihan issue lagi, bukankah dari dulu jika si Presiden lemah SBY terkena masalah selalu tiba - tiba muncul berita jika Densus 88 menangkap teroris? Coba balik kembali dan ulang ingatan kita.

Sekarang ada Crop Circle yang sesungguhnya muncul, yang semoga bukan pengalihan issue, tetapi bisa menjadi pengingat penguasa negeri agar ingat Tuhan dan ingat perilaku memalukan para petinggi yang katanya tanpa korupsi dan sukses.



Semoga LAPAN semakin bingung, siapa yang membuat? Apakah UFO benar - benar ada? Semoga sepakbola Indonesia bisa semakin maju jika Crop Circle di atas di laksanakan dan di yakini.

Andalkan Tuhan

Mengandalkan Tuhan dan segenap kuasaNya, lebih baik daripada sekedar berucap dan bertindak pasrah dan cenderung menyerah, apapun itu beban yang disandang. Cobalah ubah paradigma kita, bahwa tak ada yang tak bisa kita lalui, tak ada yang buat kita menyerah, selama di jalur yang benar dan terpercaya. Sebagai kiasan, mendaki seberapapun tingginya gunung, selama kita di jalur yang benar dan mempersiapkan diri serta percaya dengan baik, niscaya, tak ada yang mampu menghalangi kita menggapai puncak megahnya.


Ada sebuah kisah yang penuh hikmah.

Ada seorang pria yang putus asa dan mau meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan dan berhenti hidup. Lalu ia pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan, "Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah ?" Jawaban Tuhan sangat mengejutkan, " Coba lihat ke sekitarmu...Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?"

" Ya " jawab pria itu.

" Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, AKU merawat keduanya secara sangat baik. AKU memberi keduanya cahaya, memberikan air, Pakis tumbuh cepat di bumi, daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apapun, tapi AKU tidak menyerah "

Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak, tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu. Tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu, tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun keempat, masih juga belum ada apapun dari benih bambu. "Aku tidak menyerah" kata TUHAN.

Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil. Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna. Tapi 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki. Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun. Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.

" AKU tak akan memberi cobaan yang tak sanggup diatasi ciptaan-Ku " kata TUHAN kepada pria itu. " Tahukah kamu, anak-Ku...Di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar - akar?”

" AKU tidak meninggalkan bambu itu, AKU juga tak akan meninggalkanmu "

" Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain," kata Tuhan.

" Bambu mempunyai tujuan yang berbeda dengan pakis, Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah "

" Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi. Asal tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana dan jalan hidupmu "

Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Tuhan maha pencipta, Tuhan menciptakan yang ada di alam semesta, Tuhan menciptakan segalanya. Lalu, apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Apakah kejahatan itu ada? Pertanyaan ini pada satu masa di gunakan oleh seorang profesor, di ajukan kepada para mahasiswanya. " Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? "


Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, " Betul, Dia yang menciptakan semuanya ". " Tuhan menciptakan semuanya? " Tanya profesor sekali lagi. " Ya, Pak, semuanya " kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis profesor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, " Profesor, boleh saya bertanya sesuatu? " " Tentu saja," jawab si Profesor.

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, " Profesor, apakah dingin itu ada?"

" Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu? " Tanya si profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, " Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas. "

Mahasiswa itu melanjutkan, " Profesor, apakah gelap itu ada? "

Profesor itu menjawab, " Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, " Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, " Profesor, apakah kejahatan itu ada? "

Dengan bimbang profesor itu menjawab, " Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara - perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, " Sekali lagi anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya." Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.


Ref: Belantara Indonesia

Jangan Buang Sampah Di Gunung

Sampah di gunung dasawarsa ini terasa lebih menggunung daripada gunung itu sendiri, saat Merapi masih dengan puncak Garudanya, di lereng depan puncak Garuda, sampah bertebaran dengan gembira, seolah tak peduli dengan empunya alam. Di Merbabu, lebih parah lagi, bau kotoran manusia bercampur dengan sampah lain, saat angin bertiup, bau semakin hampir merontokkan bulu hidung!

Tips agar hindari membuang sampah saat di gunung:

1. Saat ingin membuang kentut, usahakan jangan saat angin bertiup besar dan anda berada di depan rombongan, karena selain bunyi yang mengagetkan, juga bau akan keluyuran ke belakang, ke arah rombongan, apa yang terjadi? Jika ada yang pingsan, anda yang bertanggung jawab penuh.

2. Saat ingin buang air besar, carilah tempat yang terlindung, atau sebuah sungai yang mengalir. Bila tak ada sungai, galilah tanah dahulu, lalu buang air besar anda, setelah selesai, timbun kembali lubang dengan tanah. Jangan biarkan menganga, karena akan menjebak kaki pendaki lain. Coba bayangkan jika kaki kita yang terjebak dalam lubang tadi?

3. Saat ingin buang air kecil, carilah tempat yang juga terlindung, semisal di semak belukar atau di rimbunnya pepohonan. Jangan sekali - kali kencing di tenda!


4. Bawalah tas plastik besar untuk membawa kembali sampah perbekalan kita turun menuju basecamp, kemudian kita buang di tempat semestinya. Jangan biarkan gunung menerima yang bukan haknya. Biasanya bisa di terapkan dalam kegiatan pendakian ber type Bersih Gunung.


5. Sampah plastik dan lain - lain sebaiknya tidak di bakar di atas gunung, karena akan menimbulkan kebakaran, tetapi bawa kembali sampah turun, kemudian jika ingin di bakar, bakarlah di basecamp, tanpa ikut membakar basecampnya!

Masih banyak sebenarnya metode ikut andil peduli bumi, tetapi yang di atas adalah hal yang sederhana dan bisa kita lakukan selama kita mau dan mampu. Mudah bukan? Stop Meremehkan Alam!

Korpala goes to Darwin

Oleh : Andi Mulatauwe | 28-Okt-2010, 11:59:32 WIB


Kabar Indonesia - “Survive With KORPALA” yang merupakan moto penjiwaan lahir batin anggota Korps Pencinta Alam Universitas Hasanuddin (Korpala-Unhas) terhadap kecintaan mereka terhadap alam. Kecintaan yang kembali dibuktikan dengan Ekspedisi Pelayaran Akademis II' (EPA II)“.

Hal ini merupakan pelayaran kedua Korpala Unhas ke luar negeri, setelah berlayar dengan perahu Sandeq ke Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Pada Ekspedisi Pelayaran Akademis I (EPA I) tahun 1996, Korpala-Unhas berlayar dengan rute Sulawesi–Selatan, Kalimantan, Sabah, Brunei, Serawak, Singapura, Riau, Jawa dan kembali ke Sulawesi Selatan.
Pelayaran ini menunjukkan betapa tingginya daya ‘survive’ mereka, karena kali ini menuju Australia dengan perahu Sandeq yang telah berumur 15 tahun. Perahu tua itu kini dipakai bersimulasi untuk menguatkan kekuatan tim dan kesiapan awak perahu menuju pengarungan samudera yang lebih jauh.

Simulasi dilakukan selama 10 hari (6-16 September) di Pambusuang, Polewali Mandar. Untuk perahu setua itu, kemampuan survival harus terpadu dengan keberanian mengarungi laut dengan keterbatasan pengadaan perahu. Perahu tua, daya survival yang tinggi, keberanian dan keandalan tim, merupakan satu penanda bahwa nenek moyang orang Sulawesi bukan hanya pelaut pemberani, tapi cucu-cucu mereka di generasi terkini, juga demikian.

Pewarisan nilai-nilai keberanian pelaut Sulawesi terwariskan pada setiap gelombang nadi para pengarung samudera ini. Pelayaran ini menelusuri jejak-jejak pengarungan samudera, para pelaut Sulawesi di beberapa titik persinggahan sebelum masuk ke Australia.

Kemampuan Sandeq dalam pelayaran samudera disebutkan pernah mengarungi Singapura, Malaysia, Jepang, Mandagaskar, Australia dan Amerika (http://indotim.net). Dengan EPA II, maka tersisa lagi tiga wilayah yang akan dilayari yakni Jepang, Mandagaskar dan Amerika.

Pengarungan ini menjadi promosi etnik dalam dunia kemaritiman, sebagai bentuk rekonstruksi keberadaan pelaut ulung masa lalu. Pelaut-pelaut itu kini mewariskan semangat mereka dalam keberanian yang tercerdaskan secara akademis. Selama masa pelayaran ini, diadakan pula seminar kemaritiman untuk membedah nilai-nilai kemaritiman dalam ranah intelektual.

Dengan demikian, keberanian di laut terimbangi pula dengan kecerdasan di setiap gulungan ombak. Sisi antropologi dan sejarah yang menjembatani dua budaya antara Sulawesi dan Aborigin, maupun budaya yang terkait menjadi pembahasan ilmiah dalam seminar tersebut.

Di akhir Oktober, para atlet EPA II ini melakukan pendataan daerah pesisir Sulawesi Barat, sebagai bagian dari aktivitas ilmiah dalam pelayaran akademis ini. Guswan, ketua tim ekspedisi memberikan jalur detil EPA II dalam Tempo Interaktif (27/6/10). Ia menyebutkan, jalur pelayaran ini dari Makassar ke Pulau Aborigin Australia Utara.

Jalur ekspedisi ini berawal di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat, lalu perahu bergerak ke Makassar. Dari sini kemudian berlayar ke Pulau Selayar, selanjutnya keluar dari Selat Makassar menuju Pulau Alor. Selepas Alor, tim akan melipir ke pulau kecil di Nusa Tenggara Barat.

Selanjutnya memilih jalur nelayan Marege, dengan pertimbangan peluang dari karakter keganasan alam yang datang baik dari barat maupun timur tetap akan membawa perahu ke pesisir Aborigin, bagian utara Australia. (http://www.tempointeraktif.com). Dengan memilih jalur nelayan Marege, berarti Korpala-Unhas akan merekonstruksi dan merevitalisasi ketangguhan pelaut Sulawesi di jalur yang hanya dilewati para pemberani.

Di tengah persiapan EPA 2, dengan Sandeq tua itu, memang terdapat realitas ironi dari perahu tersebut. Sandeq makin tersisih, terkalahkan oleh keberadaan perahu mesin (Fajar, 3/10/05). Nelayan lebih memilih perahu bermesin dengan alasan lebih praktis.

Sandeq memang hanya jaya dalam seremoni dan perayaan gempita perlombaan. Perahu kebanggaan masyarakat Mandar, hanya terdengar dengung kejayaannya setahun sekali dalam 'Sandeq Race'. Kejayaan seremonial di setiap hari perayaan proklamasi kemerdekaan tersebut, tidaklah bisa mengembalikan kejayaan Sandeq.

Pelaut ulung di masa silam, tak menggunakan Sandeq untuk beberapa piala, penghargaan dan piagam maupun hadiah berupa uang. Di masa lampau, para pelaut ulung di atas perahu itu, mengapungkan kehidupan dalam keandalan sebagai manusia pemberani, karena mempertaruhankan nyawa di laut lepas.

Kejayaan Sandeq tak lagi terpelihara sebagai suatu budaya, tapi berkecenderungan menuju titik menurun sebagai aktivitas perlombaan olahraga belaka. Korpala Unhas, berkehendak merekonstruksi keberanian para pelaut ulung Sulawesi.

Mereka yang dulu berlayar ke Australia Utara, demi mempertahankan hidup keluarga yang ditinggalkan adalah persembahan keberanian yang tak terkatakan. Inilah budaya Sandeq yang tak bisa diapungkan hanya dengan perlombaan. Ketika segala sesuatu hanya dijadikan objek perlombaan, maka budaya telah dilunturkan untuk menjadi siapa menjadi nomor satu, tercepat dan terdepan dalam mengarungi laut.

Ini merupakan sisipan dari luar yang merusak nilai budaya kearifan lokal. Berlomba dan terus berlomba, adalah kebudayaan festival dari Barat, bukan ranah orisinil kultur masyarakat Sulawesi. Dalam laporan Fajar yang juga diposkan kembali oleh Mandar Online disebutkan, “Sandeq memang merupakan kebanggaan, tapi pada suatu saat hanya akan menjadi kenangan masa silam tanpa upaya yang konkret untuk menyelamatkannya.”

Saat yang dicemaskan oleh Fajar dan Mandar Online, tak akan terjadi sebagai kenangan masa silam belaka. Pelayaran EPA I dan EPA II, merupakan usaha konkret KORPALA-Unhas untuk siap menyelamatkan aset budaya ini. Penyelamatan yang sesuai dengan moto, “Survive With Korpala” .

Sisi kebudayaan yang sangat mengakar antara Sandeq dan orang Mandar yakni kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup (meminjam bahasa Durkheim, Struggle for Survival) dan membangun kebudayaannya (http://melayuonline.com). “Struggle for Survival” ala masyarakat Mandar bertemu dalam moto “Survive With Korpala” di ekspedisi ini.

Dalam situs itu disebutkan tentang adaptasi untuk mempertahankan hidup, membuat masyarakat Mandar memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan laut. Pengetahuan itu yakni berlayar (paissangang asumombalang), kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang), dan kegaiban (paissangang).

Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah: rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar. Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia.

Dengan perahu tercepat inilah, para pengarung laut muda itu bersama perahu tua, menunjukkan kepada dunia, usia bukanlah penghalang. Bagi mereka yang muda. Inilah saat untuk menggulung lebih banyak pengalaman dengan makan garam di laut yang bergejolak.

Tak ada pelaut ulung, di laut yang tenang. Garam terasa lebih gurih, bila langsung diciduk dari gelombang yang tinggi. Perahu tua itu juga bisa berkata kepada siapapun, bahwa kayu tak lapuk dalam umur yang bergerak. Kayu hanya lapuk dalam umur yang diam dan tak dipergunakan untuk apapun.