Ankor XX

madhy-adventures.blogspot.com.

Ankor XX

TWKM XXII PONTIANAK.

Selasa, 22 Maret 2011

Puncak Rantemario


          Secara Goegrafis Gunung ini Terletak di utara daerah kabupaten Enrekang, selatan daerah TanaToraja, dan sebelah tenggara daerah Kabupaten Polewali.

AKSES KE SANA
MAKASSAR - ENREKANG - BUNTUDEA ( Baraka )
          Dari Pusat Kota Makassar Pendaki Dapat menggunakan Mobil Angkot (Pete-pete) Menuju Ke terminal Daya Dengan tarif Rp 3000/org. Dari Terminal daya langsung Carter Mobil Enrekang Rp.50.000/org yang langsung menuju ke Baraka sebuah kota kecamatan yang memakan waktu 4-5 Jam. Dari sini perjalanan dilanjutkan menuju Gura yang mamakan waktu selama 2 jam sepanjang lintasan terdapat jurang menganga dengan kedalaman 300 m, jalan tersebut sangat rentan longsor dimusim hujan, maka disini rawan sekali kecelakaan.

          Kampung Buntudea Kecamatan Baraka, kabupaten Enrekang merupakan perkampungan kecil yang berada di ketinggian 1500 Mdpl sebagi entry point. Dari sini pendaki harus berjalan kaki pada lintasan setapak yang licin dan berlumpur dengan melewati gugusan jurang yang cukup curam yang rata-rata kedalamannya 300 m dari permukaan air sungai yang mengalir direlung-relung jurang. selain itu pendaki juga akan melewati perkebunan kopi dan jagung.

RANTELEMO-POS 1
Pada star awal perjalanan pendaki akan dihadapkan pada lintasan yang menanjak dengan vegetasi pepohonan yag jarang sehingga jaika penadakian dilakukan pada siang hari akan sangat melelahkan. Dalam perjalanan menujhu pos 1 pendaki akan melintasi sekitar 7 bukit, setelah itu menurun menurun menuju sebuah sungai selebar 5 m dan harus disebrangi. Setelah menyebrangi sungai tersebut pendaki akan dihadapkan kembali pada sebuah bukit dengan tanjakan yang cukup curam membentang sepanjang 100 m. setelah itu barulah pendaki tiba di pos 1.

POS II - POS III
Pos II terletak di ketinggian 1998 Mdpl, kondisi daerah ini cukup sempit, dengan luas dataran 2x3 m. Namun dem,ikian sangat kondusif untuk bermalam karen a terdapat sebuah sungai. Selepas pos II pendaki akan berjalan menuju lembah yang dalam selama 1 jam dan kembali menapaki tebung yng curam, sepanjang rute ini pendaki dianjurkan waspada karena lintasan ini merupakan yang terberat. setelah itu lintasan sudah mulai tidak berat. menuju pos II diperlukan waktu 2 jam.

Pos III - POS IV
Sepanjang lintasan pos III - IV, medannya menanjak secara stabil sehingga sangat melelahkan dan menjemukkan, namau sepanjang perjalanan banyak terdapat tanaman anggrek liar yang dapat menyedapkan mata.

POS IV - POS V
Pos V berada di ketinngian 2.700 Mdpl. Area sekitarnya dikelilingi oleh pepohonan berukuran besar. Menuju pos VI hawa mulai terasa dingin namun jalur tetap menanjak.

POS VI - POS VII
Di pos VI medan sudah memasuki vegetasi pepohonan subAlpin yang mulai mengecil dan kerdil. Untuk menuju ke pos selanjutnya pendaki harus menapaki empat bukit kecil yang memiliki padang terbuka, selam 1-2 jam.

POS VII - PUCAK RANTE MARIO



           Pos VII berada diarea yang terbuka pada ketinggian 3478 Mdpl. Dari area ini pendaki dapat melakukan summit attack menuju puncak pada pagi hari. Waktu tempuh untuk sampai di pos terakhir adalah 45-60 menit. dari pos terakhir ini puncak Rante Mario masih belum tampak. medan menuyju puncak sangatlah berdebu dan panas saat musim kemarau. Kira-kira 30 menit perjalanan puncak tertinngi di Sulawesi ini barulah kelihatan. Setiba dipuncak pendaki dapat menyaksikan bentangan alam Latimojong yang berbukit-bukit eksostis.



Dokumentasi: Korpala Unhas

Lembah Ramma

Sebuah lembah luas berumput di kaki gunung Bawakaraeng. Dapat dicapai hanya dengan berjalan kaki dengan medan yang mendaki dan menurun bersama dengan pohon pinus yang siap menemani selama 3-4 jam dari Desa Lembanna. Bukit dan gunung yang memagari menjadi pemandangan yang menarik di tempat ini. Siang hari langit biru menyelimuti dengan awan indahnya sedangkan malam hari lembah ini berselimut hitam dan taburan bintang. Anak sungai di mana-mana, airnya segar mengalahkan minuman bermerk.
Tiap hari Sabtu dan Minggu, Lembah Ramma ramai didatangi kelompok-kelompok pencinta alam dan mahasiswa. Biasanya, kelompok pencinta alam ke Ramma melalui Kampung Lembanna, Kelurahan Bulu Tana, Kecamatan Tinggi Moncong. Jalur yang cukup landai dengan sajian pemandangan yang sangat indah membuat lembah ini, menjadi lokasi favorit kelompok pencinta alam untuk berakhir pekan.
Lokasinya tersembunyi di antara lereng terjal. Cocok buat si petualang sejati. Perjalanan menuju Lembah Ramma harus menembus kawasan hutan, Awalnya, jalan setapak yang dilalui ini sama dengan jalur yang digunakan menuju puncak Gunung Bawakaraeng yang terkenal. Tapi setibanya di pertigaan diantara pos 1 ke pos 2 belok jalur kanan, bertandakan Batu Besar yang diatasnya bertuliskan Ramma.
Setibanya di puncak sebuah bukit, Anda bisa menikmati keindahan alam yang terpampang di depan mata. Dari sini pula mulai tampak lembah yang berwarna hijau membentang luas, yang dibelah sebuah sungai kecil. Sangat mengagumkan!

Saat menuruni bukit diperlukan kewaspadaan dalam memilih pijakan. Selain agak terjal, jalur ini juga dipenuhi bebatuan. Salah memilih pijakan, bisa menyebabkan kaki tergelincir- bahkan terkilir. Dengan jalan berhati-hati, kurang dari setengah jam Anda akan menjejakkan kaki di dasar lembah. Tibalah Anda di ketenangan dan ketentraman atmosfir Lembah Ramma.
Seluruh komponen alamnya berupa padang rumput yang luas, sungai kecil, telaga, dan air terjun, membentuk panorama alam yang menakjubkan. Lereng gunung yang mengelilinginya berdiri kokoh bak dinding benteng yang siap melindungi lembah ini.
Selain pesona alam. Lembah Ramma juga menyimpan keunikan lain. Lembah yang berada di ketinggian sekitar 1.600 mdpl ini, dijadikan lahan penggembalaan oleh penduduk setempat. Mereka melepas sapi atau kuda dan meninggalkannya dalam waktu lama.

Dokumentasi : Korpala Unhas

Keindahan Pulau Kapoposang

         Seminggu lamanya kami persiapkan segala keperluan untuk dapat melalukan petualangan Bahari di Pulau Kapoposang. Mulai dari persuratan yang menjadi keharusan untuk dilengkapi, makanya dibutuhkan surat izin masuk kawasan konservasi (SIMAKSI), Berdasarkan keputusan dari Kementerian Kehutanan melalui SK No. 588/kpts-II/1996 tanggal 12 September 1996, telah ditetapkan bahwa Pulau Kapopposang dan sekitarnya sebagai kawasan konservasi berupa Taman Wisata Alam Laut (TWAL). Kurangnya aksesibilitas menuju lokasi tersebut, menjadi hambatan terberat yang kami alami. Karena tidak ada jadwal kapal reguler menyebabkan pulau ini tidak mudah untuk dijangkau.

           Bila ingin disamakan keidahan Pulau Bunaken, Pulau Kapoposang lah yang pantas. Kita akan berdecak kagum dengan keindahan hamparan pasir putih yang membentang dari utara ke selatan. Ditambah dengan riuh gemuruh pohon kelapa, menambah evoria untuk dapat berlama-lama di pulau tersebut. Namun belum lengkap rasanya bila belum menikmati keindahan bawah laut pulau Kapoposang.

           Secara administratif pulau Kapoposang berada di Desa Mattiro Baji, Kecamatan Liukang Tuppabiring, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Propinsi Sulawesi Selatan. Terletak pada bagian terluar kawasan Kepulauan Spermonde. Berdasarkan pemanfaatannya luas wilayah daratan ± 297.990 Ha, yang dibagi atas tiga bagian yaitu kawasan pemukiman, semak, dan kebun pohon kelapa. Lama perjalanan dapat ditempuh ± 4 jam menggunakan perahu tradisional (Jolloro’) dari Makassar. Menurut data yang ada daratan pulau Kapoposang diperkirakan telah dihuni sejak 300 tahun lalu (abad ke-16), oleh nelayan suku Bugis. Oleh sebab itu bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Bugis.

           Aktifitas masyarakat setempat adalah sebagai nelayan dengan memanfaatkan potensi laut: jenis ikan, taripang, dan rumput laut. Peralatan yang digunakan sangatlah sederhana (tradisional), kebanyakan masih menggunakan pancing ulur (hand line). Namun selain itu, adapula yang menggunakan jaring (gae). Adapun sistem pemasaran yang dilakukan para nelayan memiliki rantai penjualan yang amat singkat (Nelayan-Penadah-Konsumen).
Lokasi Pulau Kapopposang merupakan pulau paling terluar dari gugusan pulau-pulau Spermonde. Keidahan alam masih terjaga dari kerusakan yang parah. Letaknya yang sangat strategis, dimana dapat dijangkau dari P. Kalimatan, Bali dan Jawa merupakan suatu peluang untuk dikembangkan untuk daerah pariwisata.

           Besarnya potensi keanekaragaman hayati ekosistem terumbu karang disekitar pulau ini, menunjukkan bahwa kawasan pulau Kapoposang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan beberapa kawasan lain di dunia. Bahkan beberapa ahli karang dan ikan karang dunia menyatakan bahwa kawasan perairan Pangkep termasuk kawasan karang dunia yang memiliki keaneka ragaman hayati karang sangat besar. Banyaknya fauna langka dan bernilai ekonomis tinggi yang dilindungi secara internasional oleh CITES (Convention onInternational Trade of Endangered Species) dan / atau Undang-undang Perikanan, antara lain kima, ketam kelapa, penyu dan ikan napoleon.



Referensi: Catatan Perjalanan MH. ADAM “Achyl”
Dokumentasi :Korpala Unhas

Tebing Bambapuang

          Bambapuang adalah nama salah satu desa dimana tebing Bambapuang berada, secara administrative, Desa Bambapuang berada dalam wilayah Kecamatan Anggeraja Kabupaten Enrekang. Kondisi geografis Bambapuang adalah wilayah pegunungan yang didominasi oleh hamparan batu gamping yang membentuk bukit-bukit terjal. Ketinggian wilayah bervariasi berkisar 1000-1100 mdpl. Pengaruh ketinggian ini merupakan salah satu peyebab cuaca yang relative dingin di Bambapuang seperti halnya daerah ketinggian lainnya di Enrekang.

           Kalangan penggiat alam terbuka lebih mengenal daerah ini karena keberadaan Gunung bambapuang (1100 mdpl) utamanya para pemanjat tebing, Karena pada bagian selatan gunung Bambapuang terdapat tebing dengan ketinggian rata-rata 80-150 meter. Bahkan keberadaannya telah telah menjadi kiblat kegiatan panjat tebing yang dating dari penjuru tanah air. Tercatat lebih dari 30 tim telah mendatangi tempat ini.
Gunung Bambapuang adalah rangkaian dari hamparan batu gamping Formasi Makale dan Toraja yang memanjang dari selatan ke utara. Daerah penyebaran batuan mulai dari Enrekang sampai ke Tana Toraja. Selain sebagai daerah yang diminati kalangan petualang, Panorama alam yang dimiliki Bambapuang merupakan salah satu daya tarik tersendiri sehingga banyak orang mengunjungi tempat ini untuk tujuan berlibur atau rekreasi. Obyek wisata alam yang ditawarkan berupa pemandangan aliran sungai Sa’dang disebelah barat dan pemandangan Buntu Kabobong di bagian timur yang dapat dinikmati bebas dari puncak Bambapuang. Untuk keperluan wisata, pendakian Bambapuang biasanya melewati jalur utara, waktu tempuh sekitar 2 jam dari Dusun Kasambi yang berada tepat di kaki Gunung Bambapuang.
          Lereng-lereng disekitar Bambapuang pada umumnya dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lahan pertanian. Komoditi unggul yang dibudidayakan petani setempat adalah tanaman hortikultura seperti kentang, Lombok, bawang, jagung, kacang tanah, dan buah-buahan seperti papaya, jeruk, rambutan dll.
Sebelah selatan Bambapuang terdapat Dusun Kotu yang merupakan perkampungan terdekat untuk mengakses tebing bagian selatan Bambapuang. Dasar tebing dapat diakses dari Dusun Kotu dengan berjalan kaki berupa jalan setapak sejauh 3 kilometer. Pada musim kemarau, jalanan dapat dilewati kendaraan roda dua (motor).

           Lokasi Tebing Bambapuang dapat diakses dengan Mobil Bus dari Makassar-Enrekang melewati beberapa Kabupaten yaitu : Maros, Pangkep, Barru, Kota Madya Pare-Pare, dan Sidrap, Waktu tempuh rata-rata 6-7 jam samapi Dusun Kotu Desa bambapuang Kabupaten Enrekang. Dusun Kotu berada pada jalur poros Enrekang menuju Tana Toraja.

Dokumentasi: Korpala Unhas

Tebing Lakisan Enrekang

Tebing Lagisan yang terletak di daerah Anggeraja, Kabupaten Enrekang menjadi ujian selanjutnya bagi para bajing setelah membuat 3 jalur baru di tebing Lopi-Lopi,Leang-Leang, Kabupaten Maros. Sebelum menjajal cadas Lagisan setelah sempat vakum selama 3 tahun dalam pembuatan jalur di tebing oleh para bajing di divisi panjat tebing KORPALA UNHAS akhirnya pada tanggal 21 – 24 Januari 2011 dengan mengambil nama team bajing is back…# 1 memulai petualangan memanjat dengan membuat 2 jalur baru yaitu jalur artificial “bajing is back” dengan ketinggian ± 45 meter dan jalur sport “ tangga bambu” ± 12 meter di tebing Lopi-Lopi,Maros yang beranggotakan 8 orang yaitu : Chummink469,Fadli,Ichi,Nanank,Madhi,Ucham,Aroel and Lumay. Selanjutnya di bulan februari 2011 pada tanggal 12-15 team bajing is back…#2 kembali menjamah tebing Lopi-Lopi,Kabupaten Maros dengan menyelesaikan jalur artificial setinggi ± 65 meter. Jalur ini diberi nama Jalur Almarhum (Ismed) “in the End”. Penamaan jalur ini untuk mengenang almarhum Ismed Wahyudi dan Kadir J yang pertama kali memanjat di jalur ini dan telah meminta persetujuan saudara Rimba yang ikut memanjat dan menjadi mentor bagi kedua almarhum . Setelah 5 kali diadakan pemanjatan di jalur ini dengan team yang berbeda akhirnya jalur ini selesai juga hingga puncak tebing. Team bajing is back…# 2 sebagai team ke 5 yang memanjat di jalur ini beranggotakan 7 orang yaitu : Chummink469,Jalal,Fadli,Ichi,Nanank,Baim, dan Lumay.
Tibalah saatnya para bajing menjajal big wall Lagisan yang berada di Kabupaten Enrekang. Setelah pertama kali dipanjati pada tahun 1995 yang terhenti di ketinggian ± 75 meter tidak pernah ada lagi pemanjatan di tebing Lagisan. Pada tanggal 28 februari sampai 4 Maret 2011 team bajing is back…# 3 melakukan pemanjatan dengan sukses sampai puncak tebing Lagisan dengan ketinggian ± 130 meter yang diberi nama “ Jalur project 22A”.

Team pemanjat/climber membuat VI pitch disebabkan jalur ditengah tebing yang sering traverse dan memiliki teras sehingga dapat membuat tali manjat patah dan friksi. Kondisi dasar tebing yang untuk mencapainya harus melalui jalur scramling yang panjang memaksa membuat beberapa angkor untuk lintasan di jalur scramling tersebut sehingga diputuskan setelah mencapai ketinggian ± 45 meter team pemanjat/climber melakukan alpine beralaskan cadas tebing Lagisan selama 3 malam. Kondisi batuan yang rapuh membuat pemanjat harus ekstra hati-hati dan menggunakan helmet standard untuk menghindari batu jatuh. Setelah 5 hari bergelut dengan kerasnya cadas Lagisan akhirnya team bajing is back…# 3 mecapai puncak tebing dengan penuh rasa syukur. Kali ini team bajing is back…#3 beranggotakan 8 orang yaitu Jalal,Chummink469,Fadli,Ahmad,Fahmi,Rimba,Lumay dan Laga.
Akhir kata team bajing is back…#3 mengucapkan special thanks kepada saudara-saudara di Korpala yang masih memiliki adventure soul dan telah memberikan sumbangan yaitu : idham(11),halim(11),Laga(11),erni(11),Syam(14),Ardi(14),Isma(15),Haryadi(17). Karena spritmu lah saudara-saudaraku se- KORPALA team bajing is back…dapat memanjat lagi.
to be continued…

(Enrekang, 5 Maret 2011, bajing is back…)
Penulis : Lumay
Dokumentasi : Korpala Unhas



Tebing Tontonan (Mandu)

Kabupaten Enrekang memang menawarkan objek petualangan yang sangat menarik. Media petualangan yang sangat menantang menjadikan Kab. Enrekang sebagai idola bagi penggiat alam bebas di Sul-sel. Gunung tinggi, Gua, Tebing-tebing dengan ketinggian rata-rata diatas 100 meter adalah ciri khas daerah ini. Dearah ini juga dikenal dengan hasil pertanian yang sangat terkenal dimana-mana. Diantaranya Salak Duri, Bawang, Kentang dan hasil tani lainnya. Secara admistrati tebing ini terletak di Dusun Tontonan, Kelurahan Tanete, Kec. Anggeraja. Dan secara geografis terletak pada E = 119' 48' 40" BT dan 3' 25' 13" LS

Diantara tebing-tebing yang terdapat di enrekang, Tebing Mandu' (Tontonan adalah tebing yang sangat menantang dari tebing-tebing yang lain. Tebing ini juga dikenal dengan kuburan tuanya yang sampai sekarang masih ada. Jejeran kuburan Tua (Mandu') yang berjejer disepanjang dasar tebing adalah sebuah warisan leluhur yang patut untuk kita jaga dengan baik. Terjalnya tebing Mandu ini jaka dilihat dengan sepintas seolah tanpa ada cacat batuan sehingga membuat para pemanjat untuk menjakinya.

Banyak para panjat tebing yang telah melakukan pemanjata ditempat ini diantaranya , KORPALA UNHAS, MAPALA POLITEKNIK, MAPALA 45 MKS, METRO EXPDTION, MAPALA UMI, TIM PUTRI SERITI dll.

Tebing ini berada tepat dipinggir jalan poros sehingga hampir seluruh masyarakat mengetahui jika ada pemanjatan yang dilakukan ditempat ini. Untuk menuju ke titik pemanjatan ada hal yang menantang yang harus kita lalui yaitu menyeberangi sungai yang sedikit deras. Dari permukaan sungai ke titik pemanjatan harus dilakukukan dengan pemanjatan Artificial setinggi 20 meter dengan melewati banyak pohon-pohon kaktus yang siap menancapkan duri tajamnya ditubuh kita. Dan pemanjatan akan lebih seru jika kita menggunakan Tyrolean untuk aktivitas penyeberangan. Kekokohan dinding-dinding batu tebing Mandu akan menjadi tantangan para pemanjat.

Nama-nama Tebing di Kab. Enrekang
1. Tebing Bambapuang 170 meter, Dusun.Kotu, DEsa.Bambapuang, Kec.Anggeraja
2. Tebing Mandu'/Tontonan 140 meter, Dusun.Tontonan, Kel. Tanete, Kec. Anggeraja
3. Tebing Mammiri/Tontonan 150 meter, Dusun.Tontonan, Kel. Tanete, Kec. Anggeraja
4. Tebing Rawinta/Cakke' 120 meter, Kec. Anggeraja
5. Tebing Buntu Batu 140 meter, Dusun.Panyurak, Desa Panyurak, Kec. Pasui/Baraka
6. Tebing Lakisan 80 meter, Dusun.Kotu, DEsa.Bambapuang, Kec.Anggeraja
7. Dan lain-lain.

Dokumentasi: Korpala Unhas

Tentang Blog


Assalamualaikum....
Puji Syukur Kepada Allah SWT, Hari - hari yang kami telah lalui penuh dengan berjuta kenangan indah dalam sebuah tali silaturahim yang syarat dengan rasa persahabatan.

Perjalanan kami memang bukanlah perjalan sempurnanya seorang manusia dalam menggapai pengalaman dan pembelajaran kepada alam dan kehidupan ini, namun disanalah kami menemukan arti dan makna kehidupan dibalik rahasia alam yang memberikan kami sebuah keindahan yang hakiki dalam makna kehidupan.

Alam dan kehidupan merupakan wujud nyata yang bisa kita rasakan dalam benih benih cinta yang penuh rasa sayang yang secara halus membunuh rasa sombong kita dalam kehidupan ini, tunduk patuh dan rasa syukur memberikan kami arti bahwa sang Pencipta Langit dan Bumi telah memberikan kita kesempatan menikmati dan mencintai isinya.

Cinta ini pun tentunya tak akan pernah sempurna, Hanya Kuasa Nya Saya beryukur dan mengucapkan segala Puji baginya yang telah menciptakan Alam ini dengan liuk keindahannya, dan kami sadar Cinta yang Hakiki datangnya dari Engkau Ya Allah, dan Kami pun menyadari bahwa cinta kamipun sesungguhnya hanya Untuk Mu Ya Allah.

Terima kasih atas semua pembelajaran ini, kami akhirnya berserah diri padaMu……

Untuk teman – temanku tercinta dimanapun engkau berada, semoga apa yang telah kita lakukan tidak akan pernah sia-sia, semoga pengalaman dan pelajaran dalam bergaul dan bersahabat dengan alam, kita pun akan selalu mengenang kembali keindahan persahabatan ini.

Artikel di dalam webblog ini saya tulis berdasar pada pengalaman pribadi, juga ada yang saya ambil dari berbagai sumber, baik saya copy secara utuh maupun saya saring, yang tentunya juga saya sertakan sumber artikel tersebut dimana saya ambil. Jika ada artikel yang bukan pengalaman pribadi saya atau saya ambil dari lain sumber dan saya tidak menyertakan sumber tersebut dikarenakan saya tidak menemukan sumber yang valid. Bila ada rekan yang mengetahui keabsahan sumber tersebut dimohon memberitahu saya lewat kontak email saya ataupun di nomor telepon saya, dan saya akan segera mencantumkan sumber tulisan tersebut di dalam artikel.

My Profile


“Madhy”
seorang manusia biasa yang sedang berpetualang dalam menyelami makna kehidupan, untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

Terlahirkan sebagai anak ke-3 dari 4 orang bersaudara tepatnya tanggal 13 Juni 1983 di Lombok Timur.

Hobby berpetualang menjelajahi alam bebas dan Bergelut di dunia kepencinta Alaman sejak tahun 2006 Lalu, dibawah Bendera: Korps Pencinta Alam Universitas Hasanuddin (KORPALA UNHAS).


Setelah menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Jurusan Perkapalan Universitas Hasanuddin Makassar, sekarang saya bekerja disalah satu perusahaan galangan kapal bagian engineer.

Kunjungi saya di:
madhy_antek09@yahoo.com
+6285299840652

Kumpulan Informasi Maya